Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Skor Kredit Alternatif, Jurus Dongkrak Akses Pembiayaan buat Perempuan
Diskusi akses pembiayaan perempuan dengan Women’s World Banking (WWB). (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • Women’s World Banking mencatat bias gender masih membatasi kredit formal bagi hampir tiga perempat pengusaha perempuan UMKM, meski lebih dari 64 persen UMKM Indonesia dimiliki atau dikelola perempuan.
  • Data alternatif seperti pembayaran tagihan, transaksi digital, telekomunikasi, dan e-commerce dinilai dapat melengkapi skor kredit konvensional; OJK telah mengatur Pemeringkat Kredit Alternatif melalui POJK 29/2024.
  • Hingga Juli 2026, delapan Pemeringkat Kredit Alternatif terdaftar di OJK; uji coba WWB akan menyasar pengusaha ultramikro dan mikro perempuan untuk memperluas akses pembiayaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Women’s World Banking (WWB) melaporkan masih ada bias gender dalam proses penilaian skor kredit yang mempengaruhi akses pengusaha perempuan terhadap pembiayaan.

Kondisi itu terbukti dengan data bahwa di Indonesia, hampir tiga perempat pengusaha perempuan di segmen UMKM belum memiliki akses terhadap kredit formal. Padahal, data Kementerian UMKM menunjukkan lebih dari 64 persen UMKM di Indonesia dimiliki atau dikelola oleh perempuan.

Proses penilaian kredit dengan memanfaatkan data alternatif disebut menjadi solusi untuk melengkapi metode penilaian kelayakan kredit konvensional.

“Data alternatif membuka peluang bagi bank dan lembaga pembiayaan lainnya untuk memperoleh pemahaman yang lebih lengkap mengenai profil calon debitur. Pendekatan ini membantu perempuan pengusaha UMKM yang memiliki kapasitas keuangan dan potensi usaha untuk memperoleh akses layanan keuangan formal,” kata Regional Head Southeast Asia, Women's World Banking, Angelique Timmer di Jakarta, dikutip Jumat (31/7/2026).

1. Manfaatkan data transaksi digital untuk alternatif penilaian kredit

Ilustrasi transaksi digital (IDN Times/Aditya Pratama)

Untuk mencari data alternatif apa yang bisa digunakan untuk membuktikan seorang perempuan bukanlah risiko bagi perbankan ataupun pelaku usaha jasa keuangan (PUJK) lainnya, WWB menggunakan pendekatan Women-Centered Design.

Dengan pendekatan itu, ditemukan beberapa data yang bisa membantu perempuan mendapat penilaian kredit yang baik. Misalnya riwayat transaksi digital. Bagaimana seorang perempuan dengan rutin membayar tagihan listrik, tagihan telekomunikasi, membayar pajak, asuransi, BPJS, dan lain-lain. Menurut Director of Policy Southeast Asia, Women's World Banking, Vitasari Anggraeni data ini seharusnya menunjukkan bahwa seorang perempuan bertanggung jawab atas pembayaran-pembayaran yang menjadi kewajibannya.

“Jadi Women-Centered Design benar-benar memastikan ada perspektif perempuan, dalam hal ini perempuan UMKM, dalam ketika kita merancang produknya,” tutur Vitasari.

2. OJK dorong pemanfaatan data alternatif dalam skor kredit

ilustrasi kredit (IDN Times/Aditya Pratama)

Meski begitu, keberhasilan pemanfaatan sumber data alternatif tentu bergantung pada kolaborasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, termasuk regulator, industri jasa keuangan, penyedia teknologi Pemeringkat Kredit Alternatif, dan mitra pembangunan, sehingga inovasi di sektor keuangan berlangsung secara inklusif dan berkelanjutan. 

Untuk menjawab tantangan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan Peraturan OJK Nomor 29 Tahun 2024 tentang Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA), yang membuka ruang penilaian kelayakan kredit berbasis data alternatif, seperti data telekomunikasi dan perdagangan elektronik, bagi masyarakat dan pengusaha yang belum memiliki riwayat kredit formal. Regulasi ini juga diharapkan dapat memberikan kepastian hukum bagi penyelenggaraan aktivitas Pemeringkat Kredit Alternatif serta memastikan keseimbangan antara mendorong inovasi yang progresif dan pelindungan data konsumen. 

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso mengatakan hingga Juli 2026, terdapat delapan Pemeringkat Kredit Alternatif yang telah resmi terdaftar di OJK dan layanannya dimanfaatkan oleh berbagai Lembaga Jasa Keuangan. Hal ini juga menunjukkan tingkat kepercayaan Lembaga Jasa Keuangan akan hasil pengolahan data alternatif.

“OJK telah mentransformasikan Pemeringkat Kredit Alternatif dari aktivitas yang sebelumnya berkembang melalui kerangka inovasi menjadi aktivitas yang memiliki standar kelembagaan dan tata kelola yang lebih matang serta pengawasan yang makin andal”, kata Adi.

Women's World Banking bersama penyelenggara layanan jasa keuangan serta Pemeringkat Kredit Alternatif akan menerapkan dan melaksanakan uji coba pemanfaatan data alternatif berbasis perilaku bagi pengusaha perempuan di segmen usaha ultramikro dan mikro. Pendekatan ini dapat menggunakan berbagai indikator, seperti penggunaan layanan telekomunikasi, riwayat transaksi digital, serta partisipasi dalam program Pemerintah.

Alternative credit scoring bukan sekadar pendekatan baru dalam penilaian kredit, tetapi juga membuka peluang agar lebih banyak perempuan memperoleh akses pembiayaan yang sesuai dengan kondisi usahanya. Ketika aktivitas ekonomi mereka dapat dikenali oleh sistem keuangan, peluang mereka untuk tumbuh juga akan semakin besar,” tutur Vitasari.

3. Peningkatan akses pembiayaan ke perempuan berpotensi meningkatkan PDB hingga 9 persen

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (IDN Times/Aditya Pratama)

Kembali ke Angelique, dia menyontohkan, WWB telah melakukan uji coba pemanfaatan data alternatif dalam skor kredit di Vietnam. Sebelum uji coba itu, hanya 1 persen dari pengusaha perempuan yang mendapatkan akses pembiayaan. Namun, setelah ada pemanfaatan data alternatif, jumlah perempuan yang berhasil mengakses pembiayaan naik 500 persen.

Angelique mengatakan, dengan mendorong akses pembiayaan ke perempuan, potensi peningkatan produk domestik bruto (PDB) bisa mencapai 9 persen.

“Jadi berhenti menilai pengusaha UMKM perempuan sebagai risiko. Mari berpikir kesempatan ekonomi yang ada, menggunakan kekuatan mereka, menggunakan data mereka, dan memastikan bahwa mereka mendapatkan akses untuk mengembangkan bisnis mereka. Jadi mari membuat dari sebelumnya mereka tidak terlihat, menjadi patut untuk didukung dengan investasi,” tutur Angelique.

Editorial Team

Related Article