ilustrasi investasi (pexels.com/Liza Summer)
FOMO sering membuat perhatianmu hanya tertuju pada peluang mendapatkan keuntungan. Kamu sibuk membayangkan harga akan naik, tapi lupa mempertimbangkan kemungkinan harga turun dan seberapa besar kerugian yang sanggup kamu terima.
Dalam kondisi seperti ini, keputusan investasi menjadi lebih emosional karena dorongan untuk mendapatkan keuntungan terasa lebih kuat daripada keinginan untuk melindungi modal. Padahal, memahami risiko merupakan bagian penting sebelum kamu memasukkan uang ke sebuah aset.
Untuk mencegahnya, kamu bisa memberi jeda sekitar 24–48 jam sebelum membeli aset yang sedang ramai dibicarakan. Gunakan waktu tersebut untuk menuliskan alasan membeli, jumlah dana yang akan digunakan, risiko yang siap kamu tanggung, serta aturan kapan investasi perlu dievaluasi kembali. Temuan dalam International Journal of Financial Studies menunjukkan bahwa pesan yang menekankan keputusan mandiri dan peringatan risiko dapat berperan dalam memoderasi pengaruh FOMO terhadap keputusan investasi. Jadi, membiasakan diri mengambil keputusan secara mandiri dan mengingatkan diri tentang risiko bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi dorongan FOMO.
FOMO investasi bukan sekadar rasa iri melihat orang lain mendapatkan keuntungan lebih dulu. Perasaan takut tertinggal bisa membuatmu mengikuti tren, mengubah strategi secara impulsif, bahkan memasukkan dana lebih besar daripada rencana awal.
Penelitian terhadap investor di India dan Vietnam sama-sama menunjukkan adanya hubungan antara FOMO, perilaku ikut-ikutan, dan keputusan investasi. Karena itu, jangan jadikan keuntungan orang lain sebagai patokan utama, ya, dan pastikan setiap keputusan investasi tetap berdasarkan tujuan, kemampuan finansial, serta risiko yang sanggup kamu tanggung.