Sampai pada kau pun menelan ludahmu sendiri yang telah basi. Lalu, orang-orang kembali menyadari, bukankah begitu telatah dari manusia yang menyebut dirinya sebagai dewa? Menari di atas penderitaan dan kesengsaraan yang tak kunjung reda, sebab korupsi, pungli birokrasi, hukum yang dijual-beli, ketimpangan yang menjadi-jadi.
Bencana pun ditunggangi oleh mereka yang tak punya nurani. Jerit tangisnya riuh dalam komodifikasi. Picik sekali permainan oleh jiwa-jiwa yang penuh angkara dan tak pernah kenyang. Pasalmu, pasal mereka, bahwa tiada kekuasaan selain kekuasaan yang diatur oleh penguasa. Tak ada keadilan nyata, yang berlaku hanyalah kehendak dari pemilik takhta.
![[PROSA] Pasal Manusia Dewa](https://image.idntimes.com/post/20251028/pexels-august-de-richelieu-4427430_368931ed-af9b-40d4-ae9b-dbfbfdf31c74.jpg)