Rasa sedihku seperti paus,
begitu besar
dan tak terbendung.
 
Jati diriku diterjang gelombang emosi,
menghanyutkan sampai ke dasar.
Mimpiku terkepung kegelapan
sampai menghilangkan jejak sinar
 
Harapan di pundakku ingin bebas,
tetapi aku terjebak di kedalaman,
diombang-ambing oleh arus takdir.
 
Kesedihannya kian membesar
saat aku merindukan permukaan,
Aku meraung, suara yang teredam,
ternyata tertelan oleh samudra luas.
 
Tersisa kesunyian yang menyapa,
menyertai kesedihan yang tak terkira.
Aku pun bertanya lirih:
“Apakah aku sanggup bertahan?”