Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[PUISI] Upah yang Tak Pernah Utuh

[PUISI] Upah yang Tak Pernah Utuh
ilustrasi pasar (pexels.com/Alan Wang)

Fajar pecah sebelum mimpi selesai,
langkah berangkat tanpa banyak kata,
di punggung hari mereka titipkan harap,
meski upah sering tak sebanding lelah.

Mesin meraung, waktu tak memberi jeda,
detik menekan tanpa rasa iba,
keringat jatuh bukan sekadar cerita,
ia harga hidup yang jarang dihitung dunia.

Gedung tinggi berdiri megah dan bercahaya,
namun siapa yang mengangkat tiap bata?
Tangan-tangan kasar itu tak tercatat nama,
hilang di balik pujian dan angka.

Di meja keputusan, angka diperdebatkan,
sementara perut menunggu kepastian,
cukup atau tidak bukan sekadar hitungan,
tapi soal bertahan atau kehilangan.

Hari ini suara tak lagi bisa dibungkam,
jalan-jalan penuh oleh tuntutan yang tajam,
keadilan bukan sekadar kata dalam wacana,
ia hak yang harus nyata dirasakan.

Hari buruh bukan sekadar tanggal di kalender,
ia ingatan tentang peluh yang tak pernah pudar,
tentang manusia yang ingin hidup setara,
bukan hanya bekerja, tapi juga dihargai sepenuhnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Related Articles

See More

[PUISI] Upah yang Tak Pernah Utuh

28 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Inang Benalu

[PUISI] Inang Benalu

27 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Rumit

[PUISI] Rumit

26 Apr 2026, 20:17 WIBFiction
[PUISI] Sepi yang Berisik

[PUISI] Sepi yang Berisik

26 Apr 2026, 05:25 WIBFiction