Rasa sakit apakah ini, Tuan?
Mengapa begitu sulit kusembuhkan,
hingga tiap tikamannya tertanam dalam,
membuatku sungguh tersiksa karenanya.
Ke mana aku harus mengobatinya?
Penawar seperti apa yang mampu menyembuhkannya?
Penderitaan macam apa yang kau torehkan
hingga rasanya mencekik napasku,
dadaku begitu sesak,
bahkan udara pun terasa enggan masuk.
Dalam setiap helaan napas
kusimpan sejumput harap:
semoga sakit ini segera reda.
Meskipun pikiranku berkata sebaliknya,
ia terus bertanya,
“sampai kapan sakit ini mendera?”
Dan aku memilih diam,
bukan karena enggan menjawab,
hanya saja,
aku memang belum memiliki jawabannya.
![[PUISI] Dialog dengan Rasa Sakit](https://image.idntimes.com/post/20260302/pexels-aysenur-ozgoren-76907738-8810218_97fa2e91-717d-4cad-a22a-90833063d2d9.jpg)