Iya, kamu di depanku
Kacamatamu memantulkan bayangan wajahku yang kusam
Tapi hatimu ?
Adalah pertanyaan yang harus aku cari jawabannya
Es batu Americano kita sudah lama hilang,
melebur dalam kubangan hitam transparan
Pekat tebal nan pahit itu kini sudah mulai tawar
“Kaya kita sekarang ya.”
Bibirku bergerak tanpa suara
dengan sadar
Kau mengajakku bergegas pulang
Rupanya sadar akan wajahku yang sayu, diam melamun
Tidak ada tawa renyah atau minimal senyum Ikhlas
Seperti awal kita posting foto tangan saling mendekap di feed Instagram
Operator musik kafe ini kusebut terlalu peka
Gethsemane dari Sleep Token tetiba terdengar,
berbarengan dengan langkah kita saat membuka pintu untuk pulang
Dua gelas Americano tawar masih setengah saat kupalingkan wajah sejenak
Di atas meja yang tadi kita gunakan untuk saling beradu diam
Setelah kupikir,
pahit pekat di awal ternyata jauh lebih nikmat daripada tawar yang menyedihkan.
Tawar karena waktu dan diam yang berlebihan
Mungkinkah kita kembali pekat seperti dulu?
Nanti Aku pesankan dua gelas Americano lagi untuk memastikannya
![[PUISI] Dua Gelas Americano Malam Itu](https://image.idntimes.com/post/20260423/pexels-daejeung-14121816_e067a7a5-98fa-4c9f-bff4-9ebf0ec80f50.jpg)