Jeda itu jelas karena malas,
Mulai merambat, menancap,
dan kini mengakar kuat.
Setiap hari, kesempatan kian menipis,
seperti guratan sesal yang menjadi warisan tunggal untuk dikenang.
Seolah-olah mereka lupa,
rangkaian kesempatan itu
masih membentang luas di hamparan awan.
Seolah-olah mereka takut
untuk kembali menggelora.
Karena kecewa yang mendera,
kini justru membelenggu asa.
![[PUISI] Hamparan Semu](https://image.idntimes.com/post/20260427/terra-qklntoml7hw-unsplash-1_997aa8db-6f8b-4f2f-afda-6a5e11978033.jpg)