Kau datang mengetuk pintu dengan wajah iba
Menawarkan bahu seolah kau paling setia
Sunyi merayap melihat sandiwaramu yang gila
Berlagak jadi penawar, padahal kau adalah bisa

Tanganmu merangkulku dengan pelukan hangat
Tapi matamu mengincar sisa hidupku yang sekarat
Kau simpan rahasia di balik senyum yang terpahat
Mengambil yang tertinggal dengan langkah yang jahat

Silakan dekap bayangan yang kau anggap abadi
Di atas air mataku yang kau isap tanpa tahu diri
Tunggulah saatnya semua topengmu luruh
Karena dusta akan berakhir binasa, percayalah