[PUISI] Ingin dan Semilir Angin

Gadis itu tertunduk di pojok kafe
Meninggalkan secangkir matcha yang kian dingin
Pundaknya lunglai
Waktunya kian terabai
Keinginan-keinginan kian menggunung
Sebuah draf lengkap di laptopnya menggantung
Padahal, itu kunci harapan yang cepat rampung
Tapi sepertinya ia kurang beruntung
Doa-doa sudah dirapalkan berulang kali
Harapan orang tua bertanya seiring berjalannya hari
Namun, nyatanya ia tak punya kendali
Hidupnya seperti semilir angin yang mampir tak berarti
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.


















