[PUISI] Rumah tak Bersisa

Di rahim rimba yang dulu hijau berdoa
Pohon-pohon berdiri gagah
Merayu angin dengan daun-daun doa
Kini, doa itu patah digergaji tawa besi
Tanah menangis dalam bahasa retak
Urat-uratnya terkelupas, telanjang
Akar kehilangan alamat pulang
Burung-burung mengemas langgamnya,
Meninggalkan langit yang disulap luka
Tangan serakah menjahit sunyi dengan api
Menyulut malam agar terang oleh abu
Hijau ditukar hitungan laba
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.


















