Aku adalah kertas putih
yang kau biarkan penuh dengan coretan acak
Kau menuliskan namamu berkali-kali di sana
seolah-olah aku tak punya judulnya sendiri

Kau menekan pena terlalu dalam
hingga goresannya menembus ke halaman belakang
Meninggalkan bekas yang tak bisa diratakan
meski kau coba hapus dengan seribu maaf yang dipaksakan

Aku lelah menjadi ruang kosong
yang hanya kau datangi saat kau punya keluh untuk ditumpahkan
Atau saat tinta di kepalamu mulai meluap tak beraturan

Kini aku memilih untuk merobek lembaran itu
Membiarkan bagian yang rusak tertinggal di masa lalu
Sebab aku bukan lagi sketsa yang belum jadi
yang nasibnya ditentukan oleh tanganmu yang tak pernah pasti

Aku adalah buku yang utuh
Dan mulai hari ini, aku akan menuliskan babku sendiri
tanpa perlu menunggu namamu muncul lagi di baris berikutnya