Rimba menjerit di dada Bumi
Suaranya retak seperti kaca langit yang pecah,
Akar-akar menggigil memeluk tanah yang sekarat
Daun-daun berdoa dengan bahasa gugur yang pilu

Kapak berlagu di nadi pepohonan
Nada besinya tajam mencabik sunyi
Setiap ayunan adalah tanda tanya
Tak pernah sempat dijawab burung-burung pulang

Sungai menangis dengan mata keruh,
Airnya menua sebelum waktunya
Ia membawa kisah luka di punggung arus
Tentang rumah yang dilucuti tanpa pamit