Plastik melilit leher pagi
Menelan embun sebelum sempat menyapa rumput.
Di meja makan, ia duduk sebagai cangkir dan piring
Memeluk kopi kita dengan jemari bening yang tak pernah dingin.
Kita mengunyah kesegaran yang dibungkus rapi
Tanpa sadar gigi-gigi kita ikut mengunyah keabadian yang beracun.
Ia merayap keluar dari lemari pendingin,
Memanjat dinding-dinding rumah, lalu menjelma menjadi baju yang kita kenakan
Sepatu yang membungkus langkah
Hingga kantong tempat kita menyimpan harapan.
Plastik tidak lagi sekadar wadah
Ia telah menjadi rumah, dinding, dan sipir yang mengunci pintu dari luar
Di luar sana, laut tersedak membiru
Menampung jutaan perut plastik yang mengapung lapar.
Ikan-ikan belajar bernapas dalam gelembung sintetis,
Sementara tanah di pelataran rumah, menolak memeluk akar, kulitnya dilapisi lembaran tipis yang kaku.
Kita mengira sedang menggenggam kemudahan
Padahal plastiklah yang sedang menggenggam nadi kita.
Ia mengalir lembut di dalam pembuluh darah,
Berbisik di antara detak jantung yang makin pelan "Kalian telah membangun penjara ini dengan senyuman"