Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Ketika yang Lemah Membayar
ilustrasi alam yang rusak karena ulah manusia (pexels.com/Alfo Medeiros)
  • Puisi menggambarkan rakyat kecil yang berjuang memenuhi kebutuhan pangan di tengah dampak keserakahan dan korupsi.
  • Perusakan hutan dan lingkungan membuat sungai menghitam, mata pencaharian hilang, serta banjir dan lumpur menerjang permukiman rapuh.
  • Orang miskin menanggung bencana yang bukan ulah mereka, sementara pelaku keserakahan digambarkan bebas karena hukum tunduk pada uang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di atas tanah retak dan legam
Tangan kasar menggenggam hampa
Mereka hanya ingin piring nasi terisi
Namun asap keserakahan menelan asa

Pena menari di ruang ber-AC yang dingin
Korupsi memakan jatah rakyat jelata
Hutan ditebang, bumi dibelah tanpa ampun
Sungai menghitam, mata pencaharian pun sirna

Saat hujan turun membawa petaka
Lumpur dan banjir menyapu gubuk yang retak
Orang kecil tenggelam dalam derita
Menanggung bencana atas dosa yang tak pernah dibuat

Sang dalang melenggang tenang tanpa jerat
Hukum luluh di bawah tumpukan uang kertas
Yang miskin makin terperosok ke dalam jurang
Yang kaya menjulang di atas puing keserakahan

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team