Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[PUISI] Lukamu Pedihku

[PUISI] Lukamu Pedihku
Pixabay.com/StockSnap

Rodan tanpa sentuhan,

Mendengar tepian mata didera timpang.

Hendak menyala amarah tergarang,

Sabarnya memadamkan,

Tersisa sejuk saja.

 

Rodan tak kunjung pudar

Berdoa lebih utama, katanya

Biarpun ada amarah yang redam

Makhluk keroh tak perlu dipedulikan

Berdoa saja untuk kebaikan

 

Tepian mata paling tenang,

Tiada gundah dilukiskan,

Tiada amarah terlampiaskan,

Ijinkan saya memeluk sira,

Seribu kali lebih kerap dan erat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Harivani Nurwiyati
EditorHarivani Nurwiyati
Follow Us

Related Articles

See More

[PUISI] Tangisan yang Menunggu Pulang

30 Apr 2026, 15:07 WIBFiction
[PUISI] Pundak Tanpa Jeda

[PUISI] Pundak Tanpa Jeda

29 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Kucari Kamu

[PUISI] Kucari Kamu

28 Apr 2026, 20:17 WIBFiction
[PUISI] Inang Benalu

[PUISI] Inang Benalu

27 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Rumit

[PUISI] Rumit

26 Apr 2026, 20:17 WIBFiction
[PUISI] Sepi yang Berisik

[PUISI] Sepi yang Berisik

26 Apr 2026, 05:25 WIBFiction