Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[PUISI] Doa dari Kota yang Terbakar

[PUISI] Doa dari Kota yang Terbakar
ilustrasi gedung yang terbakar (pexels.com/Mauricio Krupka Buendia)

Malam turun dengan warna abu
Lampu-lampu padam oleh ketakutan
Jalan yang dulu penuh tawa
Kini hanya menyimpan gema langkah

Seseorang berdoa di sudut rumah runtuh
Tangannya gemetar seperti daun
Bukan meminta kemenangan
Hanya memohon esok masih ada

Api menari di antara dinding
Seperti lidah marah yang tak kenyang
Namun di balik asap itu
Harapan masih bersembunyi kecil

Dan doa itu terbang perlahan
Melewati langit yang luka
Mencari telinga langit
Yang masih mau mendengar manusia

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Related Articles

See More

[PUISI] Aku Terkutuk

01 Mei 2026, 07:07 WIBFiction
[PUISI] Nasi Goreng Ibu

[PUISI] Nasi Goreng Ibu

01 Mei 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Pundak Tanpa Jeda

[PUISI] Pundak Tanpa Jeda

29 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Kucari Kamu

[PUISI] Kucari Kamu

28 Apr 2026, 20:17 WIBFiction
[PUISI] Inang Benalu

[PUISI] Inang Benalu

27 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Rumit

[PUISI] Rumit

26 Apr 2026, 20:17 WIBFiction