aku menangis kepada samudra
kuluruhkan seluruh derita
hingga berdarah-darah beningnya
hingga melebur kesakitannya

hidup barangkali menanamku
dalam gemercik suara
yang tiba, saat aku menutup mata
hidup barangkali menuntunku
untuk tenggelamkan air mata
ketika nadi tersisa satu hela

suaraku hilang ditelan ombak
ketika satu per satu nama
kupanggil dalam getirnya kehilangan
raib, ditelan maha rahasianya waktu

di palung batinku,
luka terhampar hening, dingin, dan mengakar
yang sering kali membuatku terjaga
dan hilang dalam pusaran kehampaan

aku menangis dan menjadi laut;
tak terbatas,
tak terjamah,
dan tak pernah
selesai