Senja mulai turun menyisiri kota ini,
meneliti apakah manusia telah berhenti bekerja.
Angin mulai menyapu jalanan,
membersihkan keluh kesah yang berceceran di jalanan.
Air mengalir membawa harapan yang terus terukir.
Hari ini, di sini, ku menatap langit senja, sendiri.
Ku kembali, di mana waktu belum berputar secepat ini.
Lalu anganku terseret mundur, terdampar pada sebuah sore yang lampau,
di sebuah sudut kota entah apa namanya, yang terasa asing dan payau.
Gedung-gedung beralur kuno berdiri tegap bagai penjaga rahasia,
menyisakan remang lampu jalanan yang mulai dinyalakan tanpa paksa.
Aku tak tahu kaki ini sedang berpijak di peradaban yang mana,
hanya aroma kopi tua dan derit kereta kuda yang menggema di udara.
Di kota asing itu, waktu berjalan lambat bagai air di parit-parit semen,
orang-orang berjalan tanpa buru-buru, menikmati pergantian elemen.
Aku berdiri di antara pilar-pilar batu yang dingin dan canggung,
merasakan kehangatan masa lalu yang justru membuat dada ini terkungkung.
Mengapa ingatan membawaku ke tempat yang tak pernah kukenali?
Menjebakku pada rindu yang keliru, pada sebuah kota yang tak mungkin kukunjungi kembali.
Kini, metropolis modern kembali menarikku pulang dengan paksa,
menghapus bayangan sore zaman dahulu yang sempat singgah di rasa.
Namun, sudut asing itu telah menetap, menjadi ruang tunggu yang buntu,
tempatku menyembunyikan sisa senja, di bawah langit dewasa yang membisu.
![[PUISI] Menghitung Denyut di Kota yang Asing](https://image.idntimes.com/post/20260706/douglas-schneiders-cxaqwz06cz4-unsplash_358fa485-538f-483c-8b9c-f58af10e9f2e.jpg)