Aku pernah jadi hujan di atap rumahmu
Jatuh perlahan sambil membawa rindu yang basah
Kupikir kau akan membuka jendela
Untuk menyambutku dengan hangat

Namun, aku hanya jadi kabut
Menghilang perlahan di pagi yang asing
Kini aku memilih jadi angin
Hanya melewati hari tanpa suara

Tak akan lagi menunggu pintu untuk dibuka
Aku belajar bahwa tak semua hujan ingin ditampung
Tak semua rindu harus sampai
Kini aku tahu, jadi hujan yang reda sendiri pun tak apa
Asal hatiku tetap tumbuh meski tak pernah kau sapa