Tak pernah ku gambarkan bunga mewangikan tubuhku 
Laksana siang dan malam, kodrat adalah perintah
Bunga, kau sungguh indah nan wangi, sayangnya aku tak bisa menikmati
Benar tumbuhmu adalah benalu bagiku, layu tak terurus, mati merupakan pujian
Sungguh kau sumber kehidupan bagi rintihan cengkraman kepedihan dunia
Nasibmu sungguh pedih, Bunga!
Akankah kau rela menahan kehadiran yang tak diharapkan ini?
Benar saja, sekarang kamu tak bedanya seperti taman surga
Penyesalan akhirnya melanda
Menginginkan  kembali ibarat mengikhlaskan kematian