Barangkali angin telah mafhum,
mengapa sekuntum kembang
tetap mekar di beranda
meski tiada kumbang bertandang.
Ia tak mengaduh kepada musim,
tak merajuk pada hujan,
hanya sesekali menggugurkan kelopak
ketika rindu terlampau sarat
untuk ditanggung tangkai.
Begitulah kiranya aku
semenjak mengenalmu.
Ada renjana yang tumbuh
di sela gurau dan senda,
menyelinap di antara kata-kata
yang saban hari kita pertukarkan
tanpa curiga.
Kau bercerita tentang dunia,
aku mendengarkan dengan saksama.
Sesekali tertawa pada kelakarmu,
padahal ada perkara dalam dada
yang tak kunjung menemukan bahasa.
Ah, barangkali begitulah cinta
menyamar sebagai perkara biasa.
Ia datang tanpa tabuh,
berdiam tanpa alamat,
lalu menetap begitu saja
seolah sejak mula
di sanalah rumahnya.
Tak usahlah kau bertanya
mengapa aku betah berlama-lama.
Bukankah senja pun tak pernah menjelaskan
mengapa ia sudi singgah
di kaki cakrawala?
Dan bila kelak
kau mencintai seseorang,
semoga ia menjagamu
sebagaimana aku diam-diam mendoakanmu.
Tanpa perlu kau tahu,
tanpa perlu namaku
tersebut dalam doamu.
Sebab ada kasih
yang tak hendak menjadi milik,
hanya ingin melihat
yang dikasihinya berbahagia.
Selebihnya, biarlah rahasia
menjadi milik malam
dan aku menjadi seseorang
yang pernah kau kenal
tanpa pernah kau ketahui
betapa jauh hatinya
telah berjalan.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Suka yang Tak Bersua
![[PUISI] Suka yang Tak Bersua](https://image.idntimes.com/post/20261027/loilamtan-parting-3245545_eba2ab75-492e-4f16-a6f5-08de2f6e68ae.jpg)
ilustrasi perpisahan (pixabay.com/id/users/loilamtan-4659988/)
Take a Deeper Read
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- [PUISI] Ketika Derita Menjadi Pemandangan28 Oct 2026, 05:04 WIB
- [PUISI] Di Balik Tirai Kelabu27 Oct 2026, 05:04 WIB
- [PUISI] Para Pemilik Suara yang Tak Bersuara26 Oct 2026, 05:04 WIB
Editorial Team
EditorYudha
Related Article
[PUISI] Tuhan, Turunkan Hujan 31 Oct 2026, 07:07 WIB
[PUISI] Dewasa Karena Keadaan31 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Suka yang Tak Bersua31 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Harga Sebuah Mimpi30 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Alunan yang Dibungkam30 Oct 2026, 16:07 WIB
[PUISI] Langit yang Mengizinkanku Menyapamu30 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Negeri yang Pandai Berpura-pura30 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Ubah Alur Mimpi29 Oct 2026, 20:17 WIB
[PUISI] Sebuah Akhir yang Menyakitkan29 Oct 2026, 18:47 WIB
[PUISI] Kau yang Hadir dari Layar29 Oct 2026, 09:51 WIB
[PUISI] Kebaikan yang Menolak Padam29 Oct 2026, 09:31 WIB
[PUISI] Belajar Mengeja Makna Kehidupan29 Oct 2026, 07:25 WIB
[PUISI] Halaman Monokrom Kosong29 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Bertahan Hidup di Negeri yang Sakit28 Oct 2026, 22:27 WIB
[PUISI] Mencari Panggung Sendiri28 Oct 2026, 22:25 WIB
[PUISI] Semusim yang Tak Kunjung Henti28 Oct 2026, 20:07 WIB
[PUISI] Para Pemuda Menyatukan Keberanian28 Oct 2026, 17:47 WIB
[PUISI] Belajar Memahami Hidup28 Oct 2026, 09:48 WIB
[PUISI] Dunia Hanya Menghargai Hasil28 Oct 2026, 06:25 WIB
[PUISI] Ketika Derita Menjadi Pemandangan28 Oct 2026, 05:04 WIB