[CERPEN] Kisah Secangkir Latte Art: Aku Sudah Merindukanmu
![[CERPEN] Kisah Secangkir Latte Art: Aku Sudah Merindukanmu](https://image.idntimes.com/post/20181031/img-20181031-142652-fccdfb570e033345c298b985aad5366f.jpg)
Kepergianmu dan kecewaku malam ini menyadarkanku jika aku sudah mulai merindukanmu, bahkan sejak kita belum memulai apapun.
Aku kembali memandangnya dari balik mejaku, lagi. Terlihat jauh, padahal tempat ini tidak begitu besar. Rasanya sikap dinginmu yang membuat jarak ini terasa jauh, Cha. Dan kamu tahu? Aku tidak peduli. Selama kau masih ada dalam pandanganku, mata dan hati ini tak akan pernah melepasmu.
---
Tiba-tiba kulihat kau mengangkat tangan. Tentu saja kusambut dengan senyum bahagia dan lambaian tangan. Mana mungkin kulewatkan tanda semacam itu, karena aku memang tak pernah berpaling darimu. Aku segera menghampirimu, menuju wajah cantik yang sudah membuatku rindu meski belum berpisah. Sial! Ternyata aku sudah merindukanmu, sangat.
"Ada yang bisa kubantu, Cha?"
"Bill," jawabmu singkat seolah tak ingin berbasa-basi denganku dan lagi-lagi tanpa melihat ke arahku.
"Sudah mau pulang? Hmm.. Sayang sekali. Apa besok kau datang lagi? Aku akan membiarkan meja favoritmu ini kosong." Ah.. Bodoh! Kenapa aku bertanya macam itu. Terlihat sekali aku mengharapkannya datang lagi.
"Entahlah."
Jawaban seadanya itu entah kenapa cukup menyiksaku. Mendatangkan gelisah akan penantian yang tak pasti.
"Kalau begitu mau kuantar pulang? Atau setidaknya tinggalkan nomormu, agar besok aku bisa menghubungimu tentang meja ini?"
Aku memang sudah gila. Mengejarnya tanpa pikir panjang. Dengan cara apapun. Rasa takut kehilangan sebentuk kehadiran di sudut ini tampaknya sudah merasukiku.
Terlihat enggan menjawab pertanyaan gilaku tadi, dia hanya tersenyum tipis, melihat pada tagihannya, membayarnya, dan bergegas pergi. Sempat dia menoleh dan melihat kearahku. Apa dia melihat kekecewaan di wajahku ini? Entahlah, kuharap begitu. Namun sedetik kemudian dia berpaling dan berlalu melewati pintu tanpa kata.


![[PUISI] Formula Asmara Meracik Tawa](https://image.idntimes.com/post/20261024/pexels-olga-volkovitskaia-131638009-10819719_0797fb9e-ac9e-4385-a1ba-8cab1db6be15.jpg)
![[PUISI] Pemakaman bagi Mimpi yang Terlalu Lama Ditunda](https://image.idntimes.com/post/20261022/pexels-alveesfeeh-31503136_112b78c7-5dde-4575-b8d5-05a38ae9ddce.jpg)
![[PUISI] Kota yang Menjual Keheningan](https://image.idntimes.com/post/20250914/pexels-apasaric-2341830_6b2ffb5b-bc50-4e22-9f56-66cfacbfa202.jpg)
![[PUISI] Hutan Mengabu dan Burung Tak Bersuara](https://image.idntimes.com/post/20260620/merandadevan-ai-generated-8112802_1920_f5f89852-621f-4aa4-92f6-6987f0a0aaf0.png)
![[PUISI] Cahaya di Balik Kesedihan](https://image.idntimes.com/post/20260920/pexels-erenlerhakan-289756_e3475d0d-f923-4419-b569-eaf148db0d55.jpg)
![[PUISI] Rapat Darurat di Dalam Kepala](https://image.idntimes.com/post/20260919/pexels-polina-zimmerman-3958868_615e16ea-f5ef-4291-a60b-a169e64c72c5.jpg)
![[PUISI] Rintik yang Pulang Setelah Penantian](https://image.idntimes.com/post/20251007/screenshot-2025-10-07-092432_20be4ee3-6b4e-4495-9cf8-1e3c83cfc6ae.png)
![[PUISI] Janji Manis Dewa Petir yang Menyambar Kewarasan](https://image.idntimes.com/post/20261023/azharul-islam-mollah-1uyifthtuka-unsplash_ece54101-9d7f-4096-b37d-9eb723ceb01d.jpg)
![[PUISI] Bangku Tua di Ujung Taman](https://image.idntimes.com/post/20261021/1000146383_5a3c3c88-d449-4d15-935d-b929a28bb5a0.jpg)
![[PUISI] Asa Berperi](https://image.idntimes.com/post/20261022/pexels-peg1997-11022173_ab72e98e-dbe1-4021-ae08-809ea35b019c.jpg)
![[PUISI] Bencana di Balik Angka](https://image.idntimes.com/post/20261021/rich-tervet-i8r3kt2-mr8-unsplash_4e027b45-ecb2-46a9-a45d-718dc5c15782.jpg)
![[PUISI] Jendela yang Selalu Terbuka](https://image.idntimes.com/post/20261021/1000146384_83aafc06-74c2-4230-9668-d29db5420088.jpg)
![[PUISI] Anak Kecil Itu Sudah Mati](https://image.idntimes.com/post/20260311/pexels-milan-rout-1620544-5829607_340b6ddb-04e3-4c90-b863-d03e62df9634.jpg)
![[PUISI] Melodi yang Kehabisan Kata](https://image.idntimes.com/post/20261020/124198_d606faac-e396-4b6f-993e-d1649f738fd8.jpg)
![[PUISI] Juang Tanpa Henti](https://image.idntimes.com/post/20261001/1000703870_eb057c7d-f763-4e58-853f-8c8bbf2a3e76.jpg)
![[PUISI] Figuran Tanpa Nama](https://image.idntimes.com/post/20261018/pexels-photo-6877429_c67a21c7-d671-4a1e-bcb1-bd67b1e438e6.jpeg)
![[PUISI] Mengukir Luka Baru](https://image.idntimes.com/post/20261012/img_8783_9950afd2-acb8-442d-8807-d9faf40c0867.jpeg)
![[PUISI] Sungai yang Tidak Melawan Batu](https://image.idntimes.com/post/20261016/pexels-margo-evardson-2158292018-36021397_65bd19ec-0f98-4f6e-8a3c-ce554b9b342c.jpg)
![[PUISI] Ketika Sarang Menjadi Abu](https://image.idntimes.com/post/20261014/pexels-hellram-29221015_645060fb-1f83-4840-98f5-0acbd468d7a0.jpg)
![[PUISI] Tetaplah Jatuh Cinta Walau Negara Porak-Poranda](https://image.idntimes.com/post/20261018/pexels-josh-hild-1270765-4606770_93aaf976-01be-473f-bab5-772b769fa44f.jpg)