Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[CERPEN] Malam-Malam Panjang

[CERPEN] Malam-Malam Panjang
Pixabay/Patricia Alexandre
Share Article

Mulai lagi.  

Kamar hening bersisa derik jangkrik di pekarangan rumah. Mataku masih menyala, menatap lurus bohlam yang tak lagi berpendar. Pikiranku merangkak jauh. Lagi-lagi bergerak menuju masa empat tahun silam. Kuhela napas perlahan memejamkan mata.

Pergantian malam dan siang setiap hari selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tak jua menghilangkan bekas yang sesak di dada. Lekat dan bergumul hingga selalu membikin aku gusar. Mau sampai kapan begini? Mau sampai kapan kau menghantui benakku?

Nah. Semakin aku memejamkan mata, ingatan itu justru kian meledekku dengan memutar dirinya dalam bentuk film dokumenter. Kenangan demi kenangan putih biru disusupi memberi harapan akan datangnya kebersamaan hingga menua nanti. Perlahan menyusut tertinggal kejadian demi kejadian hanya aku sendiri yang terasing tanpa pernah tahu alasanmu pergi.

Bersisa tanda tanya dan rasa bersalah mengungkung diriku untuk terus ingin meminta maaf entah kepada siapa. Entah kepada apa. Tidak ada jembatan untuk mengirim bahkan sebongkah kata-kata. Lantas, bagaimana? Bicara pada angin? Angin yang katanya membawa salam pada siapa saja itu pun sudah sering menipu. Sampai sekarang, tak satu pun ada kabar baik maupun buruk datang sebagai balasan.

“Ras, kok sekarang kita bisa dekat ya?”

“Hm, enggak tahu juga nih Fay.”

“Padahal dulu aku takut banget sama kamu lho, haha! Soalnya, dari awal masuk sekolah kamu kelihatannya galak banget. Lagi pula, kamu punya banyak teman. Beda jauh sama aku.”

“Jangan ngomong gitu, dong. Kamu sih, menilai orang dari sampulnya.”

“Ya maaf, Ras!" 

Sampai sekarang aku pun masih merasa bingung. Seperti lelucon, entah bagaimana bisa persahabatan itu terjalin lalu tiba-tiba asing tanpa alasan. Merenggang. Kau tahu, selama empat tahun memoar itu tak hilang dan masih berkeliaran dalam benakku seperti kerucil nakal. Tapi aku lelah. Kamu tahu lelah, Laras? Tahu tidak? Entah kamu sudah lupa denganku atau berada di dunia antah berantah.

Kadang aku pikir aku ini sudah bukan lagi merasa kehilangan, tetapi sudah gila. Kadang aku takut kamu sesungguhnya tidak pernah pergi, hanya aku yang ketakutan dan berdelusi. Kadang aku meracau dalam mimpi, merajut ingatan baru yang dapat aku jadikan sebagai bukti. Kadang aku hanya ingin membenarkan segala rasa bersalah dan menafikan hal-hal yang nyata.

Lagi-lagi malam panjang harus kusudahi sebelum dipenggal oleh ingatan sendiri. Bohlam tak lagi berpendar, mataku masih menyala terang.***

2020.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You

[CERPEN] Sepucuk Surat Kepada Subuh

05 Agu 2020, 19:50 WIBFiction
Topics
Editorial Team
Siti Atika A.
EditorSiti Atika A.

Related Articles

See More
[PUISI] Saling Becermin

[PUISI] Saling Becermin

05 Jul 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Bisik Pekerja

[PUISI] Bisik Pekerja

04 Jul 2026, 21:17 WIBFiction
[PUISI] Labirin Perasaan

[PUISI] Labirin Perasaan

02 Jul 2026, 21:08 WIBFiction
[PUISI] Persembahan

[PUISI] Persembahan

02 Jul 2026, 20:48 WIBFiction
[PUISI] Realitas Bayangmu

[PUISI] Realitas Bayangmu

02 Jul 2026, 16:47 WIBFiction