Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Menghitung Mimpi, Mengukur Realita

[CERPEN] Menghitung Mimpi, Mengukur Realita
Ilustrasi seorang yang sedang menghitung uang (unsplash.com/Alexander Grey)

Di sebuah kamar sempit dengan dinding yang mulai mengelupas, Sarah duduk di sudut tempat tidur, menatap tumpukan uang kertas di depannya. Cahaya lampu redup menggantung di langit-langit, membuat bayangan wajahnya terlihat lelah. Tangan kanannya gemetar saat dia menghitung lembar demi lembar rupiah yang telah dikumpulkannya dengan susah payah selama beberapa bulan terakhir.

"Aku harus yakin cukup," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan detak jantung yang berdetak kencang. Mimpi besar yang sudah lama dipendamnya—membuka sebuah kedai kecil yang menjual jajanan tradisional—kini terasa begitu dekat, namun sekaligus begitu jauh.

Setiap lembar uang di tangannya mengingatkannya pada pengorbanan yang telah dilaluinya. Pagi-pagi buta dia sudah bangun, menyiapkan nasi uduk yang dijajakan di depan rumah. Siang harinya, dia bekerja di pabrik tekstil, dan malamnya, dia masih menyempatkan diri untuk menjahit pakaian pesanan tetangga. Semua itu dilakukan demi satu tujuan, satu mimpi yang membuatnya bertahan, meski lelah sudah menjadi teman akrabnya.

Namun, di balik setiap lembar rupiah yang berhasil dia kumpulkan, ada realita yang tak bisa diabaikan. Harga bahan-bahan terus naik, biaya sewa tempat semakin mencekik, dan saingan di pasar tak pernah surut. Sarah menyadari bahwa mimpinya bukan sekadar soal menghitung uang, tapi juga soal mengukur seberapa jauh dia bisa bertahan di tengah kerasnya hidup.

"Mimpi ini tak hanya soal uang, tapi tentang bagaimana aku bisa bertahan," gumamnya. Dia berhenti sejenak, menatap uang yang ada di pangkuannya, seolah mencari jawaban dari sekumpulan angka itu. "Apakah semua ini cukup?"

Pertanyaan itu terus terngiang di benaknya, mengganggu setiap langkah yang dia ambil. Dia ingat nasihat ibunya yang selalu berkata, "Jangan pernah menyerah, Sarah. Uang bukan segalanya, tapi tekad dan ketekunan adalah modal terbesar."

Dengan keyakinan yang perlahan kembali, Sarah menata kembali uangnya, merapikannya dengan hati-hati. Dia tahu jumlahnya masih kurang, tetapi dia juga tahu bahwa menyerah bukan pilihan. Besok, dia akan bekerja lebih keras lagi. Jika hari ini belum cukup, maka besok dia akan menambahnya. Begitu seterusnya, sampai mimpinya benar-benar terwujud.

Di luar jendela, malam semakin larut. Bintang-bintang berkelip, seakan memberi harapan baru. Sarah menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, membiarkan kelelahan meresap dalam tubuhnya. Di dalam hatinya, ada semangat yang tak akan padam. Mimpi besar masih menunggu, dan dia siap untuk terus menghitung, terus berjuang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rizal Qalam
EditorRizal Qalam
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Tangisan yang Tidak Terdengar

22 Mar 2026, 06:02 WIBFiction
[PUISI] Badut Tanpa Sirkus

[PUISI] Badut Tanpa Sirkus

22 Mar 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Subuh yang Beku

[PUISI] Subuh yang Beku

21 Mar 2026, 15:25 WIBFiction
[PUISI] Anak Bawang

[PUISI] Anak Bawang

20 Mar 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Di Balik Kaca Toko

[PUISI] Di Balik Kaca Toko

17 Mar 2026, 21:17 WIBFiction
[PUISI] Ilusi Emosi

[PUISI] Ilusi Emosi

17 Mar 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Menahan Diri

[PUISI] Menahan Diri

16 Mar 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Perpustakaan Waktu

[PUISI] Perpustakaan Waktu

16 Mar 2026, 17:47 WIBFiction