Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Lembayung Senja Untuk Sang Pemetik Gitar

Lembayung Senja Untuk Sang Pemetik Gitar
theodysseyonline

Hari itu langit mulai memperlihatkan semburat jinggannya, matahari mulai bersembunyi dibalik gedung gedung pencakar langit. Hari itu langit senja terlihat lebih indah dari biasanya, mengiringi sang rembulan yang segera memperlihatkan wujudnya. Secangkir coklat panas dengan uap yang mengepul di udara, bercengkrama dengan novel karya sang pujangga. Ya, mereka adalah sahabat yang selalu menemaniku menikmati senja, menikmati datangnya sang rembulan yang akan segera memegahkan malam.

Aku masih saja asyik menikmati secangkir coklat panas, di sinilah tempat favoritku, duduk di antara meja café di ujung ruangan, dengan mata yang masih tertuju pada langit senja. Membayangkan sejenak tentang dirimu, tentang tanganmu yang menari diatas kertas putih, tentang jemarimu yang dengan lentiknya memetik senar-senar gitar, menciptakan sebuah melodi yang indah untuk didengar.

“Mbak pancake coklat dengan ice cream strawberry nya sudah siap”,

“Oh iya terima kasih”.

Aku tersenyum hampir saja jantungku melompat keluar, menyudahi tiap angan anganku yang mulai bergerak liar, bahkan hatiku dengan lancangnya berani merindukan dia yang sama sekali tak kukenal. Ya, sudah cukup lama aku tak lagi melihatnya, rasa rindu itu semakin egois saja, dengan angkuhnya melenggang menjelajahi hatiku, mengobrak abrik setiap kenangan yang selama ini kusimpan dengan rapi. R

asa rindu itu semakin egois saja, dengan kerasnya memasuki pikiranku, mencoba mengeluarkan semuanya dan mengisinya dengan melodi indahmu. Aku melihat panecake yang sudah kupesan, ice cream strawberry yang dengan cantiknya menghiasi piring, kini sudah meleleh dan tak lagi memeperlihatkan wujudnya, rindu itu bahkan menguasai selera makanku. Aku bahkan sudah membaca banyak hal tentangmu, tentang gitar yang selalu ada dalam pelukmu, sebuah alat musik yang bahkan dulu tak pernah menarik perhatianku.

Kunci A, kunci B, kunci C, semua itu tak bisa kucerna dengan akal sehatku, bahkan membayangkannya saja aku tak mampu. Aku melirik ke arah langit senja, namun pandanganku terhalang oleh rintik hujan yang membasahi kaca. Mungkin inilah aku, “kau melihatku layaknya melihat kaca yang buram” itulah kata yang tepat untukku.

Tak banyak yang kutau tentangmu, hanya rinduku yang kian menggebu. Tak banyak yang kutau tentangmu, hanya sebait doa kepada lembayung senja. Aku tahu kau bukan penikmat senja, namun bukankah kita melihat langit senja yang sama? Saat langit mulai memperlihatkan jingganya, saat itulah rindu itu muncul dengan egonya yang kian membara.

Share
Topics
Editorial Team
Lanie
EditorLanie
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Tentang Rasa yang Belum Usai

08 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Asal Bapak Senang

[PUISI] Asal Bapak Senang

06 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Rindu Rumah

[PUISI] Rindu Rumah

05 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Setipis Alasan

[PUISI] Setipis Alasan

04 Apr 2026, 21:27 WIBFiction
[PUISI] Semanis Madu

[PUISI] Semanis Madu

03 Apr 2026, 22:08 WIBFiction
[PUISI] Cerita Akhir Maret

[PUISI] Cerita Akhir Maret

03 Apr 2026, 21:17 WIBFiction
[PUISI] Jedalah Sejenak

[PUISI] Jedalah Sejenak

03 Apr 2026, 21:07 WIBFiction