Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Untukmu Sang Pena. Dariku Sang Pengagum Rahasia

Untukmu Sang Pena. Dariku Sang Pengagum Rahasia
community.sparknotes

Hari itu cuaca sedikit mendung bahkan terik matahari pagi tak lagi berani menampakkan diri, rintik hujan mulai berjatuhan sedikit mengingatkanku akan sebuah kenangan, namun hembusan angin mulai menyadarkanku, membuatku merapatkan mantel bulu yang kukenakan berharap ada kehangatan yang tersisa.

Entah angin apa yang menuntunku ke sini, bukan masuk ke kelas yang akan segera dimulai justru duduk di bawah pohon beringin dengan bangku yang berjajar. Untuk sesaat aku memejamkan mata mengingat sebuah kenangan indah, namun tidak dengan tanganku yang terus mencari cari novel fiksi di dalam tas yang selalu kubawa. “Permisi”, yah suara itu. Suara indah dan berat, entah datang dari mana.

Perlahan aku membuka mata dan kulihat seseorang yang entah siapa aku tak mengenalnya. “Bolehkah aku mengambil penaku, mereka terjatuh dibawahmu”, suara merdu itu kembali terdengar dan kembali menyadarkanku, pada detik berikutnya aku sudah menggenggam sebuah pena dan pensil ditanganku. “Terimakasih”, ucapnya lagi padaku dan aku hanya bisa tersenyum, tak berani membayangkan semerah apa wajahku saat ini hanya karena mendengar suaranya.

Ekor mataku masih tak bisa berhenti mengikuti langkah kaki itu, dan sepertinya dewi fortuna pun sedang berpihak padaku. Dia duduk dan kemudian tangannya tak berhenti untuk mengeluarkan seperangkat alat untuk berperang dengan kertas putih yang sudah dia siapkan. Aku melihat gerekan tangannya yang seperti menari nari di atas kertas. Ya, dia sedang melukis, sebuah wajah, perempuan, dengan rambut hitam legam, matanya yang indah dengan sebuah senyuman kecil di bibirnya.

Aku bisa melihat bibirnya yang menyinggungkan senyuman, tangannya mulai menggantikan posisi pensil dengan sebuah pena, aku bisa melihatnya menuliskan namanya dengan pola meliuk – liuk yang sangat indah, menandakan bahwa dialah sang empunya dari sebuah karya yang sempurna. Tanganku masih tetap bergerak melintasi halaman demi halaman novel, berniat mencari bab terakhir yang telah kubaca.

Sebuah pembatas buku rapuh sudah berhasil kutemukan, warnanya memudar dimakan usia. Namun sepertinya otakku berkata lain, imajinasiku mulai bergerak liar. Membayangkan yang dia lukis bukan perempuan dengan senyum kecilnya, namun perempuan lain dengan tangan yang selalu menggenggam novel, perempuan dengan senyum secerah mentari pagi, matanya yang sebulat bulan purnama, dan perempuan dengan noda ice cream strawberry di sudut bibirnya.

Hari ini aku masih menjadi sang pengagum, selalu duduk di tempat yang sama, melihatnya melukis orang yang sama, tersenyum, sedih, melamun, dia melukis perempuan itu dengan emosi yang berbeda. Hari berikutnya aku masih disini, masih menjadi pengagum, namun aku tak lagi melihatnya. Hatiku mulai resah, masih berharap kehadirannya, detik berikutnya aku mengeluarkan secarik kertas, berharap dia menemukannya suatu saat nanti, dengan sebait puisi sebagai isinya.

Bila kau bertanya tentang melodi
Hanya suaramu yang kudengar
Bila kau bertanya tentang kesempurnaan
Hanya tarian tanganmu yang kulihat
Bila kau bertanya tentang dirimu
Hanya sebuah pena yang selalu menuliskan namamu yang selalu kuingat
Dan bila kau bertanya tentangku
Akulah sang pengagum dengan sejuta rahasia

Share
Topics
Editorial Team
Lanie
EditorLanie
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Tentang Rasa yang Belum Usai

08 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Asal Bapak Senang

[PUISI] Asal Bapak Senang

06 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Rindu Rumah

[PUISI] Rindu Rumah

05 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Setipis Alasan

[PUISI] Setipis Alasan

04 Apr 2026, 21:27 WIBFiction
[PUISI] Semanis Madu

[PUISI] Semanis Madu

03 Apr 2026, 22:08 WIBFiction
[PUISI] Cerita Akhir Maret

[PUISI] Cerita Akhir Maret

03 Apr 2026, 21:17 WIBFiction
[PUISI] Jedalah Sejenak

[PUISI] Jedalah Sejenak

03 Apr 2026, 21:07 WIBFiction