Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Alpukat Tidak Selalu Membuat Berat Badan Naik? Ini Alasannya

Kenapa Alpukat Tidak Selalu Membuat Berat Badan Naik? Ini Alasannya
ilustrasi alpukat (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
  • Alpukat tidak otomatis menaikkan berat badan karena lemak tak jenuh dan seratnya membantu rasa kenyang bertahan lebih lama serta mendukung penyerapan vitamin larut lemak.

  • Meski 100 gram alpukat mengandung sekitar 160 kalori, porsi seperempat hingga setengah buah per makan dapat membantu menjaga asupan energi tetap terkendali.

  • Nilai gizi alpukat bergantung pada penyajian: tambahan gula, susu kental manis, atau es krim menaikkan kalori, sementara indeks glikemiknya yang rendah membantu kestabilan gula darah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Alpukat sering dianggap sebagai buah yang sebaiknya dihindari saat diet karena kandungan kalorinya lebih tinggi dibanding sebagian besar buah lainnya. Anggapan tersebut membuat banyak orang ragu memasukkan alpukat ke dalam menu harian, meski buah ini dikenal kaya akan berbagai zat gizi.

Padahal, kalori bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah suatu makanan akan memicu kenaikan berat badan. Karena itu, alpukat masih menjadi bagian dari berbagai pola makan sehat, termasuk diet Mediterania. Lantas, mengapa alpukat tidak selalu membuat berat badan naik?

  1. 1. Lemak pada alpukat didominasi lemak tak jenuh

    ilustrasi alpukat
    ilustrasi alpukat (pexels.com/Elena Golovchenko)

    Banyak orang langsung mengaitkan kata "lemak" dengan kenaikan berat badan, padahal tidak semua jenis lemak memiliki karakter yang sama. Dalam setiap 100 gram alpukat terdapat sekitar 15 gram lemak, tetapi sebagian besar berupa lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fat), terutama asam oleat. Jenis lemak ini juga banyak ditemukan pada minyak zaitun yang menjadi bagian dari pola makan Mediterania. Lemak tak jenuh dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi sekaligus membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan K yang larut dalam lemak. Karena itu, keberadaan lemak pada alpukat tidak bisa disamakan dengan lemak trans yang banyak ditemukan pada makanan ultra-proses.

    Lemak juga membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna dibanding karbohidrat sederhana. Kondisi ini membuat makanan bertahan lebih lama di lambung sehingga rasa kenyang tidak cepat hilang setelah makan. Efek tersebut membantu mengurangi keinginan untuk mengonsumsi camilan dalam waktu singkat. Itulah sebabnya alpukat sering dijadikan menu sarapan atau camilan pada berbagai pola makan sehat. Meski demikian, kandungan lemaknya tetap menyumbang kalori sehingga porsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi harian.

  2. 2. Kandungan seratnya membantu rasa kenyang bertahan lebih lama

    ilustrasi alpukat
    ilustrasi alpukat (pexels.com/Anne)

    Selain kaya lemak sehat, alpukat juga termasuk buah dengan kandungan serat yang tinggi. Dalam setiap 100 gram alpukat terdapat sekitar 6,7 gram serat, atau hampir seperempat dari kebutuhan serat harian orang dewasa yang berkisar 25–30 gram. Serat memperlambat proses pengosongan lambung sehingga makanan tidak cepat meninggalkan saluran pencernaan. Akibatnya, sinyal kenyang dapat bertahan lebih lama setelah makan.

    Serat juga membantu memperlambat penyerapan karbohidrat di usus sehingga kadar gula darah tidak mudah naik secara drastis setelah makan. Efek ini membuat rasa lapar muncul lebih bertahap dibanding makanan yang rendah serat. Selain mendukung pengendalian nafsu makan, serat berperan menjaga kesehatan saluran cerna dengan membantu pertumbuhan bakteri baik di usus. Karena kandungan seratnya cukup tinggi, alpukat sering dipadukan dengan roti gandum atau salad sebagai menu yang lebih mengenyangkan. Manfaat tersebut tetap bisa diperoleh tanpa harus mengonsumsi alpukat dalam jumlah yang berlebihan.

  3. 3. Kalorinya memang tinggi, tetapi porsinya mudah diatur

    ilustrasi alpukat
    ilustrasi alpukat (vecteezy.com/maxskyohm27626627)

    Dibanding apel, semangka, atau pepaya, alpukat memang memiliki kandungan kalori yang lebih besar. Sebanyak 100 gram alpukat mengandung sekitar 160 kalori, sedangkan satu buah berukuran sedang dapat menyediakan lebih dari 240 kalori, tergantung ukuran buahnya. Angka tersebut berasal dari kandungan lemak sehat yang memang lebih tinggi dibanding buah lain. Meski demikian, kalori yang tinggi bukan berarti alpukat harus dihindari selama menjalani diet.

    Tak sedikit yang menyarankan untuk mengonsumsi sekitar seperempat hingga setengah buah alpukat dalam satu kali makan agar asupan energinya tetap terkendali. Porsi tersebut sudah cukup untuk memperoleh lemak sehat, serat, vitamin, dan mineral tanpa memberikan kalori berlebihan. Alpukat juga lebih sering dijadikan pelengkap menu daripada dikonsumsi sebagai makanan utama dalam jumlah besar.

  4. 4. Cara mengolah alpukat dapat mengubah nilai gizinya

    ilustrasi alpukat
    ilustrasi alpukat (unsplash.com/Louis Hansel)

    Alpukat yang dimakan langsung memiliki kandungan gizi yang berbeda dengan alpukat yang diolah menjadi minuman atau makanan penutup. Di banyak tempat, alpukat sering disajikan bersama gula pasir, susu kental manis, sirup, es krim, atau krim kocok. Padahal, bahan-bahan tersebut dapat menambah kalori dalam jumlah yang cukup besar. Sebagai contoh, 1 sendok makan gula pasir mengandung sekitar 50 kalori, sedangkan 2 sendok makan susu kental manis mengandung sekitar 120 kalori.

    Tambahan kalori tersebut sering kali lebih besar daripada kalori yang berasal dari alpukat itu sendiri. Karena itu, dua sajian berbahan dasar alpukat bisa memiliki nilai gizi yang sangat berbeda meskipun menggunakan jumlah buah yang sama. Jika sedang menjaga berat badan, alpukat lebih baik dikonsumsi bersama yogurt tanpa gula, dijadikan isian roti gandum, dicampurkan ke dalam salad, atau dihaluskan sebagai spread. Cara penyajian seperti ini membantu mempertahankan manfaat gizi alpukat tanpa menambahkan terlalu banyak gula maupun lemak tambahan. Dengan begitu, kandungan gizinya tetap menjadi fokus utama dalam setiap porsi yang dikonsumsi.

  5. 5. Alpukat memiliki indeks glikemik yang rendah

    ilustrasi alpukat
    ilustrasi alpukat (pexels.com/Foodiefactor)

    Salah satu keunggulan alpukat yang jarang diketahui adalah indeks glikemiknya (IG) hanya sekitar 15, sehingga termasuk makanan dengan indeks glikemik rendah. Indeks glikemik merupakan ukuran seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat dapat meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi. Semakin rendah angkanya, semakin lambat pula kenaikan gula darah yang terjadi. Selain itu, alpukat mengandung kurang lebih 8,5 gram karbohidrat per 100 gram, dan sebagian besar berasal dari serat sehingga karbohidrat bersih (net carbs) yang dapat diserap tubuh menjadi jauh lebih sedikit.

    Respons gula darah yang lebih stabil membantu tubuh menghasilkan pelepasan insulin secara lebih terkendali setelah makan. Insulin merupakan hormon yang berfungsi untuk membantu memindahkan glukosa dari darah ke dalam sel untuk digunakan sebagai sumber energi. Kadar insulin yang tidak naik secara tajam juga membantu mencegah rasa lapar datang terlalu cepat setelah makan. Karena alasan tersebut, alpukat sering dipadukan dengan sumber protein atau karbohidrat utuh agar keseimbangan energi tubuh tetap terjaga lebih lama. Meski memiliki indeks glikemik yang rendah, alpukat tetap mengandung kalori sehingga porsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi harian.

    Alpukat memang mengandung lebih banyak kalori dibanding sebagian besar buah, tetapi buah ini juga menyediakan lemak tak jenuh, serat, vitamin, mineral, serta memiliki indeks glikemik yang rendah. Berbagai karakteristik tersebut membuat alpukat tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat jika dikonsumsi dalam porsi yang sesuai dan tidak diolah dengan tambahan gula maupun lemak berlebihan. Jadi, sudahkah cara menikmati alpukat yang selama ini kamu pilih benar-benar mendukung tujuan dietmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More