ilustrasi alpukat (pexels.com/Foodiefactor)
Salah satu keunggulan alpukat yang jarang diketahui adalah indeks glikemiknya (IG) hanya sekitar 15, sehingga termasuk makanan dengan indeks glikemik rendah. Indeks glikemik merupakan ukuran seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat dapat meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi. Semakin rendah angkanya, semakin lambat pula kenaikan gula darah yang terjadi. Selain itu, alpukat mengandung kurang lebih 8,5 gram karbohidrat per 100 gram, dan sebagian besar berasal dari serat sehingga karbohidrat bersih (net carbs) yang dapat diserap tubuh menjadi jauh lebih sedikit.
Respons gula darah yang lebih stabil membantu tubuh menghasilkan pelepasan insulin secara lebih terkendali setelah makan. Insulin merupakan hormon yang berfungsi untuk membantu memindahkan glukosa dari darah ke dalam sel untuk digunakan sebagai sumber energi. Kadar insulin yang tidak naik secara tajam juga membantu mencegah rasa lapar datang terlalu cepat setelah makan. Karena alasan tersebut, alpukat sering dipadukan dengan sumber protein atau karbohidrat utuh agar keseimbangan energi tubuh tetap terjaga lebih lama. Meski memiliki indeks glikemik yang rendah, alpukat tetap mengandung kalori sehingga porsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi harian.
Alpukat memang mengandung lebih banyak kalori dibanding sebagian besar buah, tetapi buah ini juga menyediakan lemak tak jenuh, serat, vitamin, mineral, serta memiliki indeks glikemik yang rendah. Berbagai karakteristik tersebut membuat alpukat tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat jika dikonsumsi dalam porsi yang sesuai dan tidak diolah dengan tambahan gula maupun lemak berlebihan. Jadi, sudahkah cara menikmati alpukat yang selama ini kamu pilih benar-benar mendukung tujuan dietmu?