Bukan Cuma Hojicha, Ini 5 Roasted Tea yang Kaya Rasa

- Hojicha populer sebagai teh hijau Jepang yang disangrai suhu tinggi, menghasilkan warna cokelat, rasa manis alami, aroma smoky lembut, serta karakter kacang panggang hingga kopi ringan.
- Genmaicha memadukan sencha atau bancha dengan beras sangrai, menghadirkan rasa manis malt dan aroma biji-bijian intens; penyeduhannya disarankan maksimal dua sendok teh pada suhu sekitar 70 derajat Celsius.
- Longjing, nong xiang, dan Dong Ding oolong menunjukkan variasi roasted tea dari China dan Taiwan, dengan profil mulai nutty dan toasty hingga dark chocolate, buah kering, smoky, pastry panggang, serta floral.
Belakangan ini hojicha makin populer di kedai kopi dan teh lokal. Jenis teh asal Jepang ini tergolong roasted tea, karena melalui proses sangrai yang berperan memberikan karakter warna, aroma, hingga aftertaste-nya. Tidak heran kalau teh yang disangrai atau dipanggang punya profil rasa yang lebih hangat dan kompleks dibanding teh pada umumnya.
Meski secara umum disebut roasted tea, dalam konteks ini tidak selalu dibuat dengan cara yang sama. Ada yang dibuat dengan cara menyangrai daun teh langsung di wok panas (pan-frying atau pan-firing) atau melalui proses pemanggangan. Proses pemanasan kering tersebut yang membuat beberapa roasted tea berikut ini kaya rasa. Bukan cuma hojicha!
1. Hojicha

hojicha yang telah diseduh (commons.wikimedia.org/Green) Secara harfiah, hojicha diartikan sebagai teh sangrai yang mengacu pada proses pembuatannya. Jenis teh ini terbuat dari daun teh hijau seperti sencha atau bancha yang dikukus dan dikeringkan, kemudian disangrai pada suhu tinggi. Proses inilah yang membuatnya berubah warna menjadi cokelat dan mengeluarkan rasa manis alami.
Hojicha punya cita rasa yang hangat, lebih mendekati kacang panggang, karamel, kakao, dan kopi ringan. Aroma smoky yang lembut menjadi salah satu ciri khasnya. Selain itu, kandungan kafeinnya cenderung lebih rendah dibanding jenis teh lain sehingga dapat sesuai untuk dinikmati saat pagi maupun malam hari.
2. Genmaicha

genmaicha yang belum dan telah diseduh (commons.wikimedia.org/Matt Gibson) Teh asal Jepang lainnya yang diolah dengan cara disangrai adalah genmaicha. Teh ini terbuat dari campuran sencha atau bancha dan beras yang disangrai. Meski dalam kategori roasted tea, tetapi proses pembuatannya berbeda dari hojicha.
Untuk membuat genmaicha, beras putih atau merah direndam lebih dulu selama beberapa jam, lalu ditiriskan dan dikukus. Setelah itu dikeringkan dan disangrai sambil terus diaduk hingga berubah warna dan butiran beras akan meletup menyerupai popcorn yang memberikan aroma gurih yang khas. Beras yang sudah disangrai dan didinginkan pada suhu ruang kemudian dicampur dengan daun teh hijau kering (sencha atau bancha) tanpa melibatkan panas sama sekali.
Genmaicha disebut juga teh popcorn atau teh beras yang memiliki rasa manis malt. Aromanya seperti biji-bijian, sesuai dengan beras sebagai bahan utama yang digunakan. Perlu diingat bahwa profil aromanya cukup intens. Sehingga gunakan sedikit takaran teh saat menyeduhnya, maksimal 2 sendok teh dengan air bersuhu sekitar 70 derajat Celsius.
3. Longjing

teh longjing dan kue (commons.wikimedia.org/Jessie csz) Selain teh Jepang, kamu juga bisa menikmati roasted tea dari China yang punya karakteristik berbeda. Salah satu yang terkenal adalah longjing atau dragon well dari perbukitan di sekitar West Lake, Hangzhou, Provinsi Zhejiang. Ada beberapa jenis teh longjing yang perlu kamu tahu antara lain Pra-Qingming longjing, curly longjing, Gu Yu longjing, West Lake longjing, dan teh hitam longjing.
Teh hijau China punya proses pembuatan yang berbeda dari teh Jepang meski sama-sama melalui tahapan dipanggang atau disangrai. Daun teh mentah langsung disangrai menggunakan wajan panas dan ditekan untuk menghentikan oksidasi pada longjing. Oleh sebab itu, profil aromanya nutty (gurih kacang), toasty (aroma panggang), dan manis dengan warna seduhan hijau kekuningan pucat atau bening keemasan.
4. Nong xiang

teh nong xiang, Tie Guan Yin (commons.wikimedia.org/Quelcrime) Jika ketiga roasted tea sebelumnya termasuk teh hijau, lain halnya dengan nong xiang yang merupakan teh oolong. Jenis teh ini disangrai lebih kuat dan punya rasa lebih pekat dibanding qing xiang. Salah satu contoh yang paling terkenal dari teh nong xiang adalah Tie Guan Yin versi panggang dan Da Hong Pao dari Pegunungan Wuyi.
Proses pembuatan nong xiang melalui tahap pemanggangan berulang menggunakan arang selama berjam-jam hingga beberapa hari, tergantung tingkat kematangan yang diinginkan. Semakin lama prosesnya, maka semakin pekat pula rasa yang dihasilkan, mulai dari dark chocolate, buah kering, hingga aroma smoky yang khas. Teh ini punya profil rasa dan aroma yang relatif kuat dibanding oolong pada umumnya.
5. Dong Ding oolong

ilustrasi daun teh Dong Ding (commons.wikimedia.org/Waliy sherpa) Dong Ding oolong berasal dari Pegunungan Dong Ding, Nantou County di Taiwan. Keluarga teh oolong ini juga dipanggang menggunakan arang tradisional, mirip dengan teknik untuk membuat nong xiang. Namun, kamu bisa membedakannya dari bentuknya yang bulat, warnanya hijau lebih terang dibanding nong xiang, dan kerap kali dipetik bersama ranting mudanya.
Karakteristik rasa Dong Ding oolong memadukan kemanisan seperti pastry panggang dengan aftertaste floral. Rasanya lebih ringan dari nong xiang, tapi tetap punya kedalaman rasa khas roasted tea. Oleh sebab itu, teh ini sering direkomendasikan untuk kamu yang baru mulai mengeksplorasi roasted oolong.
Setiap roasted tea di atas punya karakter rasa dan aroma khas yang berbeda. Namun, secara keseluruhan punya profil rasanya cenderung lebih hangat dibanding teh pada umumnya. Jadi, mana yang bikin kamu penasaran untuk mencicipinya?



















