Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

10 Cara Terhindar dari Bali Belly, Turis Wajib Tahu!

10 Cara Terhindar dari Bali Belly, Turis Wajib Tahu!
Potret sakit perut (pexels.com/Sora Shimazaki)
Intinya Sih
  • Artikel membahas pentingnya menjaga kesehatan pencernaan selama liburan di Bali agar terhindar dari Bali Belly yang sering dialami wisatawan akibat makanan atau minuman tidak higienis.
  • Ditekankan berbagai langkah pencegahan seperti menghindari air keran, memilih tempat makan ramai, mencuci tangan rutin, serta mengonsumsi probiotik sebelum perjalanan untuk memperkuat sistem pencernaan.
  • Disarankan membawa ORS, mengetahui lokasi apotek terpercaya, menjaga daya tahan tubuh, dan segera mencari bantuan medis jika muncul gejala serius seperti diare berat atau dehidrasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Mencicipi aneka kuliner lokal menjadi salah satu agenda wajib saat liburan ke Bali. Namun, keseruan berburu makanan dan minuman baru terkadang dibayangi risiko Bali Belly, istilah yang umum digunakan untuk menggambarkan gangguan pencernaan yang sering dialami wisatawan mancanegara selama berlibur di Bali. Kondisi ini bisa muncul secara tiba-tiba dan membuat aktivitas liburan jadi terhambat.

Oleh karena itu, menjaga kesehatan pencernaan selama perjalanan sama pentingnya dengan menyusun itinerary wisata. Dengan lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman serta menerapkan beberapa kebiasaan sederhana, risiko mengalami Bali belly dapat diminimalisir.

Nah, sebelum mulai menjelajahi Pulau Dewata, ada baiknya mengetahui beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghindari kondisi Bali belly tersebut.

1. Hindari minum air keran secara langsung

Salah satu penyebab paling umum Bali Belly adalah konsumsi air yang tidak steril. Hindari minum air keran secara langsung, termasuk saat menggosok gigi jika kamu memiliki sistem pencernaan yang sensitif.

Perhatikan pula penggunaan es batu dalam minuman. Jika makan di warung atau tempat yang belum kamu kenal, tak ada salahnya menanyakan apakah es batu dibuat dari air yang telah difilter atau diproses dengan standar higienis.

2. Pilih tempat makan yang ramai dikunjungi

Potret orang makan di restoran
Potret orang makan di restoran (unsplash.com/Alex Haney)

Saat berburu kuliner lokal, cobalah memperhatikan jumlah pengunjung di sebuah restoran atau warung makan. Tempat yang ramai biasanya memiliki perputaran bahan makanan yang lebih cepat, sehingga makanan yang disajikan cenderung lebih segar.

Sebaliknya, restoran yang sepi dalam waktu lama bisa menjadi tanda bahwa bahan makanan tidak sering diperbarui. Meski tidak selalu demikian, memilih tempat makan yang ramai seringkali menjadi langkah aman untuk meminimalkan risiko gangguan pencernaan.

3. Hindari makanan mentah di hari-hari pertama

Setibanya di Bali, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan, cuaca, dan pola makan yang berbeda. Jadi, sebaiknya hindari dulu konsumsi salad mentah, lalapan yang tidak dicuci dengan baik, atau makanan setengah matang pada beberapa hari pertama.

Pilih makanan yang dimasak hingga matang sempurna, seperti sup, nasi campur, sate, atau hidangan panggang. Setelah sistem pencernaan mulai beradaptasi, kamu bisa lebih leluasa mencoba berbagai menu lainnya.

4. Rajin mencuci tangan

Potret mencuci tangan
Potret mencuci tangan (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Kebiasaan sederhana ini seringkali dianggap sepele, padahal sangat efektif dalam mencegah penyebaran bakteri dan virus penyebab gangguan pencernaan. Biasakan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, setelah menggunakan toilet, serta setelah beraktivitas di tempat umum seperti pasar tradisional, objek wisata, atau kawasan pura yang ramai pengunjung. Jika sulit menemukan fasilitas cuci tangan, bawalah hand sanitizer sebagai alternatif.

5. Konsumsi probiotik sebelum berangkat

Beberapa ahli kesehatan menyarankan konsumsi probiotik beberapa hari sebelum perjalanan, terutama jika kamu memiliki riwayat pencernaan yang sensitif. Probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di dalam usus, sehingga sistem pencernaan lebih siap menghadapi perubahan makanan dan lingkungan selama liburan. Idealnya, mulailah mengonsumsi probiotik sekitar tiga hingga lima hari sebelum keberangkatan.

6. Perhatikan kebersihan makanan dan minuman

Potret orang mengambil makanan
Potret orang mengambil makanan (pixabay.com/Life-Of-Pix)

Selain memilih tempat makan yang ramai, perhatikan juga kebersihan alat makan, penyimpanan makanan, dan cara penyajian minuman. Pastikan makanan disajikan dalam keadaan panas atau baru dimasak. Untuk minuman, pilihlah air mineral kemasan yang segelnya masih utuh dan hindari produk yang terlihat kurang higienis.

7. Selalu bawa oral rehydration salts (ORS)

Meski sudah berhati-hati, risiko terkena Bali Belly pasti tetap ada. Sebaiknya siapkan oral rehydration salts (ORS) atau larutan rehidrasi oral di dalam tas perjalanan.

Saat mengalami diare, prioritas utama bukanlah makan sebanyak mungkin, melainkan mengganti cairan dan elektrolit yang hilang, agar tubuh tidak mengalami dehidrasi. ORS bisa menjadi pertolongan pertama yang sangat membantu sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut.

8. Cari apotek yang terpercaya

Potret orang di apotek
Potret orang di apotek (pexels.com/Anna Tarazevich)

Jika kondisi kesehatan menurun selama liburan, penting untuk mengetahui lokasi apotek yang mudah diakses dan memiliki reputasi baik. Di Bali, jaringan apotek ternama seperti Guardian dan Kimia Farma cukup mudah ditemukan di berbagai kawasan wisata. Kedua jaringan ini umumnya menyediakan obat-obatan umum, produk kesehatan, hingga kebutuhan pertolongan pertama yang dapat membantu wisatawan.

9. Jaga daya tahan tubuh selama perjalanan

Kurang tidur, terlalu banyak aktivitas, atau jadwal liburan yang terlalu padat dapat membuat sistem imun menurun. Saat daya tahan tubuh melemah, risiko mengalami gangguan pencernaan pun bisa meningkat. Pastikan tubuh mendapatkan istirahat yang cukup, konsumsi air putih secara teratur, dan tetap makan dengan pola yang seimbang selama liburan.

10. Jangan abaikan gejala yang muncul

Potret sakit perut
Potret sakit perut (pexels.com/cottonbro studio)

Jika mulai mengalami diare berulang, muntah terus-menerus, demam tinggi, atau tanda-tanda dehidrasi seperti mulut kering dan pusing, segera cari bantuan medis. Penanganan yang cepat dapat mencegah kondisi memburuk dan membantu tubuh pulih lebih cepat, sehingga kamu bisa kembali menikmati liburan dengan nyaman.

Itu dia beberapa cara terhindar dari Bali Belly yang patut diketahui wisatawan. Pastikan lebih selektif dalam memilih makanan dan terus jaga kebersihan, ya!

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dewi Suci Rahayu
EditorDewi Suci Rahayu

Related Articles

See More