Proses memasak (pexels.com/Cihan Yüce)
1. Gunakan bahan makanan yang segar.
Pilih bahan makanan yang masih segar dan berkualitas baik, termasuk sayuran, buah-buahan, daging, ikan, maupun telur. Bahan yang segar umumnya memiliki kandungan nutrisi yang lebih optimal dibanding bahan yang sudah terlalu lama disimpan.
Selain itu, pastikan bahan makanan dicuci bersih sebelum diolah untuk mengurangi risiko kontaminasi bakteri atau kotoran yang dapat membahayakan kesehatan bayi.
2. Masak hingga matang sempurna.
Daging, ayam, ikan, dan telur sebaiknya dimasak hingga benar-benar matang untuk menghindari risiko infeksi bakteri yang dapat mengganggu kesehatan bayi. Meski demikian, hindari memasak terlalu lama karena dapat mengurangi kandungan vitamin tertentu, terutama pada sayuran.
3. Perhatikan tekstur sesuai usia bayi.
Tekstur MPASI perlu disesuaikan dengan tahapan usia dan kemampuan makan bayi. Pada awal MPASI, makanan biasanya diberikan dalam bentuk halus atau puree.
Seiring bertambahnya usia, tekstur dapat ditingkatkan menjadi lumat, cincang halus, hingga makanan keluarga. Pemberian tekstur yang tepat membantu melatih kemampuan mengunyah dan perkembangan motorik oral bayi.
4. Gunakan peralatan yang bersih.
Kebersihan peralatan memasak dan makan bayi sangat penting untuk diperhatikan. Pastikan talenan, pisau, blender, panci, mangkuk, hingga sendok dalam keadaan bersih sebelum digunakan. Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi risiko kontaminasi bakteri yang berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan.
5. Variasikan bahan makanan.
Kenalkan berbagai jenis bahan makanan sejak dini, agar bayi mendapatkan asupan nutrisi yang lebih beragam. Kombinasikan sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran, dan buah dalam menu sehari-hari. Selain memenuhi kebutuhan gizi, variasi makanan juga membantu bayi mengenal lebih banyak rasa dan tekstur.