Kenapa Kuliner Peranakan di Asia Tenggara Punya Ciri Khas Berbeda?

- Faktor geografis dan bahal kokal (Terroir)Perbedaan bahan makanan dalam masakan peranakan di Asia Tenggara dipengaruhi oleh faktor geografis dan ketersediaan bahan lokal di pasar sekitar tempat para imigran menetap.
- Pengaruh budaya penduduk lokal (Asimilasi)Imigran Tiongkok menyesuaikan resep mereka dengan budaya lokal, seperti lumpia yang awalnya identik dengan isian daging babi cincang, namun berkembang menjadi berisi daging ayam hingga sayuran.
- Jalur perdagangan dan pengaruh kolonialMasa kolonialisme juga berpengaruh dalam mewarnai rasa masakan Peranakan, seperti masakan Peranakan khas Indonesia atau Hindia
Ribuan tahun lalu, orang China melakukan perjalanan ke Asia Tenggara bukan hanya untuk berdagang, tapi juga mengenalkan budaya kuliner mereka. Menariknya, meski akarnya sama yakni daratan Tiongkok atau China, pasti kamu bertanya-tanya kenapa makanan Peranakan setiap negara di Asia Tenggara bisa berbeda-beda, kan?
Supaya kamu gak penasaran kenapa Singapura terkenal dengan nasi ayam Hainam, semetara di Indonesia ada gurihnya lumpia, ini lima alasan utama mengapa makanan peranakan menjadi sangat beragam di Asia Tenggara. Kamu yang suka kulineran pasti pengin tahu, nih!
1. Faktor geografis dan bahal kokal (Terroir)

Perbedaan paling mendasar adalah apa yang tersedia di pasar lokal sekitar tempat para imigran menetap. Di Malaysia Barat dan Singpura, misalnya, akses kebutuhan santan dan rempah sangat melimpah, maka dari itu lahirlah laksa serta beragam variasinya.
Sementara di wilayah yang cenderung lebih kering atau bisa dikatakan pedalaman yang mencari bahan segar cukup sulit, mereka lebih memanfaatkan fermentasi kacang-kacangan atau kecap untuk olahan makanan. Maka dari itu, selalul ada perbedaan bahan makanan dalam masakan peranakan di Asia Tenggara.
2. Pengaruh budaya penduduk lokal (Asimilasi)

Sudah seperti hukum alam, siapa yang datang, dia yang akan menyesuaikan. Supaya kuliner mereka dapat diterima oleh masyarakat atau penduduk asli, imigran Tiongkok juga menikahkan resep mereka dengan budaya lokal.
Kita ambil contoh melalui lumpia khas Semarang yang awalnya identik dengan isian daging babi cincang nan gurih. Lambat laun, lumpia menyesuaikan dengan rasa masakan Jawa dan makanan yang dikonsumsi. Berkembanglah lumpia berisi daging ayam hingga sayuran dengan rasa sedikit manis.
Sedangkan di Malaka atau Singapura, masakan Peranakan di sana berinteraksi dengan budaya Melayu yang menyukai rasa pedas dan beraroma tajam, seperti serai hingga terasi atau belacan.
3. Jalur perdagangan dan pengaruh kolonial

Semua negara di Asia Tenggara mengalami masa kolonialisme, kecuali Thailand. Ternyata, hal tersebut juga berpengaruh dalam mewarnai rasa masakan Peranakan.
Masakan Peranakan khas Indonesia atau Hindia Belanda, misalnya. Mereka menggabungkan juga dengan selera Belanda. Maka dari itu, lahirlah bistik hingga selat solo.
Sedangkan Malaysia maupun Singapura yang merdeka dari Inggris, setiap masakannya mendapat pengaruh makanan negara tersebut. Di mana, jalur pedagangan Inggris membawa banyak rempah dari India, sehingga tercipta kari dengan rasa rempah yang lebih tajam.
4. Perbedaan dialek dan asal provinsi di Tiongkok

Tiongkok sangat luas, sehingga imigran yang tersebar di Asia Tenggara berasal dari suku atau kelompok berbeda-beda. Itulah sebabnya masakan Peranakan setiap negara di Asia Tenggara tipikalnya tidak sama.
Makanan Peranakan warisan imigran Hokkien cenderung suka makanan berkuah dan rasanya gurih. Makanan Peranakan identik dikukus dan rasa original, tipikal makanan khas suku Teochew. Sedangkan masakan Kanton, pada umumnya menggunakan teknik menumis dan penggunaan saus yang begitu kompleks.
5. Adaptasi agama dan kepercayaan

Evolusi makanan Peranakan juga dipengaruhi oleh lingkungan religi masyarat setempat di mana para imigran Tiongkok tiba. Wilayah dengan komunitas muslim kuat, banyak masakan Peranakan yang mulanya berbahan dasar daging babi, lebih divariasikan lagi dengan penggunaan daging ayam, sapi, hingga seafood tanpa menghilangkan bumbu dasar khas Tionghoa.
Setelah menyimak penjabaran ulasan di atas, sudah tahu alasan kenapa makanan Peranakan di Asia Tenggara berbeda-beda. Meski berbeda, masakan Peranakan dikenal memiliki sifat rasa yang khas sehingga mudah dikenali oleh penikmatnya, lho.

















