Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Restoran Menaruh Menu Termahal di Bagian Atas?

Kenapa Restoran Menaruh Menu Termahal di Bagian Atas?
ilustrasi menu di restoran (unsplash.com/Ava Tyler)
  • Restoran menempatkan harga tertinggi di bagian atas untuk menciptakan efek jangkar, sehingga menu lain yang tetap mahal dapat terlihat lebih terjangkau saat dibandingkan.
  • Posisi awal dan desain visual menu dimanfaatkan agar hidangan tertentu lebih cepat dilihat, termasuk menu premium atau pilihan dengan margin keuntungan tinggi.
  • Harga ekstrem tidak selalu ditujukan untuk terjual; pilihan mahal dapat mendorong pelanggan memilih menu harga menengah atau sedikit di atas anggaran awal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat membuka menu makanan di restoran, kamu mungkin pernah memerhatikan bahwa hidangan dengan harga paling mahal justru berada di bagian paling atas. Misalnya, ada steak seharga Rp500 ribu, sementara menu lainnya hanya berada di kisaran Rp150 ribu-Rp300 ribu. Sekilas, penempatan tersebut mungkin terlihat biasa saja. Namun, ternyata ada alasan psikologis di balik cara restoran menyusun menu.

Restoran tidak hanya memikirkan makanan apa yang ingin dijual, tetapi juga bagaimana pelanggan melihat dan membandingkan setiap pilihan. Penempatan harga dan urutan menu dapat memengaruhi cara seseorang menilai apakah sebuah hidangan terasa mahal, murah, atau justru "worth it".

Lantas, kenapa menu termahal sering diletakkan di bagian atas, ya? Ini beberapa penjelasannya.

  1. 1. Menentukan patokan harga di pikiran konsumen

    ilustrasi menu di restoran
    ilustrasi menu di restoran (unsplash.com/Hyoshin Choi)

    Salah satu alasannya berkaitan dengan anchoring effect atau efek jangkar. Sederhananya, angka pertama yang kita lihat dapat menjadi patokan ketika menilai angka-angka berikutnya. Bayangkan kamu membuka menu dan langsung melihat steak wagyu seharga Rp750 ribu. Setelah itu, kamu menemukan steak lain dengan harga Rp350 ribu. Meskipun Rp350 ribu sebenarnya cukup mahal, harga tersebut bisa terasa lebih masuk akal karena sebelumnya kamu sudah melihat angka Rp750 ribu.

    Inilah yang dimanfaatkan restoran. Harga yang sangat tinggi dapat membuat harga di bawahnya terlihat lebih terjangkau melalui perbandingan. Konsumen akhirnya tidak hanya berpikir, "Rp350 ribu itu mahal", tetapi bisa berubah menjadi, "Kalau dibandingkan dengan yang Rp750 ribu, yang ini masih cukup masuk akal."

  2. 2. Menu yang muncul pertama lebih mudah diperhatikan

    ilustrasi menu di restoran
    ilustrasi menu di restoran (unsplash.com/Annie Spratt)

    Restoran juga dapat memanfaatkan primacy effect, yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih memperhatikan atau mengingat informasi yang muncul di awal. Ketika berada di restoran, tidak semua orang membaca menu dari awal hingga akhir. Banyak pelanggan hanya memindai halaman, melihat foto makanan, membaca beberapa nama hidangan, lalu memilih yang terlihat menarik.

    Karena itu, posisi awal menjadi penting. Hidangan yang ditempatkan di bagian atas memiliki peluang lebih besar untuk dilihat sebelum pelanggan beralih ke pilihan lain. Bagi restoran, posisi tersebut bisa digunakan untuk menonjolkan hidangan tertentu, terutama menu dengan margin keuntungan tinggi atau makanan yang memang ingin mereka dorong penjualannya.

  3. 3. Membuat menu dengan harga menengah terlihat lebih aman

    ilustrasi menu di restoran
    ilustrasi menu di restoran (unsplash.com/Ava Tyler)

    Ada alasan psikologis lain yang menarik. Kebanyakan pelanggan mungkin tidak ingin memilih menu paling murah karena khawatir porsinya sedikit atau kualitasnya kurang. Namun, mereka juga belum tentu nyaman memesan hidangan paling mahal.

    Di sinilah pilihan dengan harga menengah menjadi menarik. Misalnya, sebuah restoran menawarkan tiga pilihan steak: Rp150 ribu, Rp300 ribu, dan Rp700 ribu. Setelah melihat harga Rp700 ribu, pilihan Rp300 ribu bisa terasa seperti jalan tengah yang lebih aman.

    Pelanggan pun merasa tidak memilih makanan yang paling murah, tetapi juga tidak terlalu boros. Pilihan dengan harga menengah akhirnya terasa lebih aman dan masuk akal. Dengan begitu, harga paling tinggi secara tidak langsung menciptakan "zona nyaman" bagi pelanggan untuk memilih menu di tengah.

  4. 4. Mengarahkan perhatian ke area tertentu pada menu

    ilustrasi buku menu
    ilustrasi buku menu (unsplash.com/Nguyen Minh Kien)

    Bukan hanya urutan yang diperhatikan. Desain visual menu juga dapat memengaruhi ke mana mata pelanggan bergerak. Sebagai contoh, pada menu satu halaman, area bagian atas dan beberapa titik tertentu cenderung lebih mudah menarik perhatian ketika seseorang pertama kali melihat halaman.

    Oleh karena itu, restoran dapat menempatkan hidangan unggulan, menu premium, atau makanan dengan keuntungan tinggi di area yang dianggap strategis. Foto makanan, ukuran tulisan, kotak khusus, atau label seperti "chef's recommendation" juga dapat digunakan untuk membuat menu tertentu semakin menonjol. Jadi, kalau sebuah makanan terlihat paling mencolok di halaman menu, bisa saja memang ada strategi di baliknya.

  5. 5. Restoran tidak selalu ingin menjual menu yang paling mahal

    ilustrasi menu di restoran
    ilustrasi menu di restoran (unsplash.com/Tyler Thomas)

    Menariknya, strategi ini tidak selalu berarti restoran berharap semua pelanggan membeli hidangan termahal. Harga ekstrem justru bisa digunakan sebagai pembanding. Ketika pelanggan melihat pilihan dengan harga sangat tinggi, menu lain yang lebih murah dapat terlihat lebih menarik secara relatif.

    Misalnya, pelanggan awalnya hanya menargetkan makanan seharga Rp200 ribu. Namun, setelah melihat pilihan Rp600 ribu dan Rp800 ribu, hidangan seharga Rp300 ribu mungkin terasa tidak terlalu mahal. Pada akhirnya, restoran bisa mendapatkan keuntungan bukan karena pelanggan membeli menu termahal, tetapi karena pelanggan terdorong memilih menu yang harganya sedikit lebih tinggi dari rencana awal.

    Pada akhirnya, penempatan menu termahal di bagian atas tidak dilakukan tanpa alasan. Urutan, harga, dan posisi makanan dapat dirancang untuk memengaruhi cara pelanggan menentukan nilai. Jadi, lain kali saat membuka menu restoran, coba perhatikan bukan hanya apa yang ingin kamu makan, tetapi juga bagaimana restoran membuatmu melihat pilihan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More