5 Ragam Ketan Serundeng Khas Nusantara yang Unik

Ketan termasuk bahan makanan yang sering diolah menjadi aneka camilan. Teksturnya pulen, mudah dipadukan dengan berbagai bahan untuk menghasilkan cita rasa yang manis maupun gurih. Salah satu jajanan pasar yang digunakan sebagai bahan utama adalah ketan serundeng.
Ketan serundeng memang dianggap sebagai jajanan jadul dengan nama yang berbeda di sejumlah daerah. Keberadaannya begitu istimewa bagi sebagian masyarakat karena disajikan pada perayaan penting atau hajatan. Berikut ini lima ragam ketan serundeng khas Nusantara yang memiliki keunikan tersendiri.
1. Ketan serundeng

ilustrasi ketan serundeng (commons.wikimedia.org/Tim WikiPuluran - WikiBanua) Ketan serundeng menjadi sebutan umum untuk camilan berbahan beras ketan dan parutan kelapa di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa. Sebagian menyebutnya sebagai makanan khas Betawi yang biasanya disuguhkan saat Lebaran. Namun, ada pula yang menjadikannya sebagai pengganti nasi dengan menambahkan daging cincang dan siraman sambal kacang.
Sedangkan di daerah lain, seperti Cirebon, disebut sebagai ketan gurih atau ketan bumbu. Perbedaannya terletak pada tambahan ebi sangrai untuk campuran serundeng. Namanya berubah menjadi ketan punar di Palembang, yang sering disajikan sebagai teman minum teh atau kopi karena rasanya ringan tetapi mengenyangkan.
2. Ketan bintul

ilustrasi ketan bintul (instagram.com/infoserang) Warga Banten punya kuliner kebanggaan bernama ketan bintul. Makanan tradisional ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 2020. Bahan utamanya sama dengan ketan serundeng, tetapi cara membuat dan kisah di baliknya berbeda.
Ketan bintul lebih padat dan lembut, mirip jadah, karena ketan ditumbuk hingga halus setelah dikukus. Kemudian dipotong menjadi beberapa bagian sebelum disajikan bersama serundeng. Demikian pula dengan serundengnya, sering kali dihaluskan setelah dimasak bersama bumbu.
Bagi warga Banten, ketan bintul dulunya menjadi menu berbuka puasa Sultan Banten, Maulana Hasanuddin, sekitar abad ke-16. Sejak saat itu, makanan ini sering disajikan sebagai suguhan untuk tamu kerajaan. Selain itu, ketan bintul juga memiliki nilai filosofis keraketan yang berarti melekatkan.
3. Lakatan serundeng

ilustrasi lakatan serundeng (commons.wikimedia.org/Tim WikiPuluran - WikiBanua) Kalau sedang berada di Kalimantan Selatan, kamu bisa mencicipi lakatan serundeng sebagai jajanan pasar. Masyarakat setempat sering menjadikannya sebagai menu sarapan yang disajikan dengan telur rebus. Tidak hanya itu, makanan ini juga disuguhkan saat acara selamatan, batamat Al-Qur’an, atau Baayun Maulid.
Cara membuatnya cukup beragam. Setelah ketan matang, sering kali dibentuk menjadi bulatan atau lonjong. Ada pula yang menggunakan cetakan saat masih hangat tanpa dihaluskan berlebihan atau menyajikannya secara langsung dengan wadah daun pisang. Serundeng untuk hidangan ini tidak dihaluskan dan diberi tambahan kencur serta kunyit sebagai ciri khasnya.
4. Nasi rasul

ilustrasi nasi rasul (vecteezy.com/R Yuliana) Beralih ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), terdapat nasi rasul. Sesuai dengan namanya, makanan ini disajikan saat perayaan Maulid Nabi sebagai bentuk rasa syukur dan sukacita. Biasanya disuguhkan dan dibawa pulang kepada para tamu undangan setelah acara pengajian di masjid.
Sedikit berbeda dari ketan serundeng pada umumnya, nasi rasul berwarna kuning karena dicampur dengan air kunyit. Sepintas mirip nasi kuning, tetapi lebih pulen. Sedangkan serundengnya berbahan kelapa parut yang dicampur dengan bumbu dan potongan atau suwiran daging.
5. Songkolo bagadang

ilustrasi sangkolo bagadang (instagram.com/songkolo_bagadang_palu) Warga Sulawesi, khususnya Makassar, punya songkolo bagadang yang menjadi nama lokal ketan serundeng. Makanan ini terbuat dari ketan hitam atau putih yang disajikan dengan serundeng dan beberapa lauk pendamping seperti telur asin, ikan teri goreng, serta sambal. Sering kali dihidangkan sebagai makan malam setelah beraktivitas seharian.
Sesuai dengan kebiasaan masyarakat yang menikmati hidangan ini saat malam hari atau begadang, disematkan kata "bagadang" pada namanya. Kuliner malam ini masih cukup mudah ditemukan di sejumlah warung tradisional yang buka hingga larut malam. Cocok buat kamu yang ingin mencari makanan pengganjal perut saat malam hari.
Ternyata, hidangan ketan serundeng khas Nusantara begitu beragam, ya. Bahan utamanya memang sama, ketan dan kelapa parut, tetapi cara membuat, cita rasa, serta cara menghidangkannya berbeda di setiap daerah. Kamu pernah mencicipi yang mana?





















