ilustrasi penjual nasi kuning (unsplash.com/Arln Memo)
Perkembangan kota-kota besar pada awal abad ke-20 membuat nasi kuning mulai dijual sebagai menu harian karena dianggap praktis, mengenyangkan, dan cocok dikonsumsi pagi hari. Pedagang nasi kuning mulai banyak ditemukan di Batavia, Surabaya, Semarang, hingga Makassar ketika masyarakat perkotaan membutuhkan makanan cepat saji sebelum bekerja. Kehadiran lauk seperti ayam goreng, telur balado, bihun, tempe orek, serta sambal membuat nasi kuning semakin populer di berbagai lapisan masyarakat.
Tradisi potong tumpeng juga terus bertahan sampai sekarang dalam acara ulang tahun, syukuran rumah baru, peresmian usaha, hingga perayaan kantor. Filosofi nasi kuning sebagai lambang doa dan harapan baik masih dipercaya banyak orang meskipun tampilannya kini lebih modern melalui jasa katering atau dekorasi kontemporer. Popularitasnya bahkan mulai dikenal wisatawan asing karena dianggap mewakili kekayaan rempah serta budaya makan masyarakat Indonesia yang penuh simbol dan nilai tradisional.
Sejarah nasi kuning menunjukkan bahwa makanan tradisional dapat bertahan selama ratusan tahun karena mempunyai hubungan kuat dengan budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Perjalanan dari ritual kerajaan sampai menu sarapan modern membuat sejarah nasi kuning tetap relevan sekaligus menjadi bagian penting dari identitas kuliner Indonesia hingga saat ini.
Referensi:
"Nasi Kuning: Warisan Kuliner Nusantara yang Sarat Makna." UNIKOM. Diakses pada Mei 2026
"Gastronomy Traditional Culinary Names at Gadri Restaurant, Yogyakarta Palace Through Ethnolinguistics History and Culture." Journal of Islamic Tourism. Diakses pada Mei 2026
"Tumpeng: Cultural, historical, and nutritional analysis of Indonesia’s traditional rice dish." Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin. Diakses pada Mei 2026