5 Kuliner Kuno Khas Kyoto yang Masih Dimasak Pakai Kayu Bakar

- Restoran dan penginapan tradisional di Kyoto masih mempertahankan kayu bakar untuk memasak, demi aroma, cita rasa khas, serta pelestarian warisan kuliner ratusan tahun.
- Yudofu dan kamameshi dimasak perlahan dengan tungku kayu, menjaga tekstur tahu tetap lembut serta menghasilkan kerak nasi tipis dan aroma asap ringan.
- Ayu no shioyaki, yakizakana, dan yaki onigiri memakai bara kayu agar matang merata, bertekstur renyah di luar, lembut di dalam, dan beraroma harum.
Kyoto dikenal sebagai kota yang masih menjaga tradisi Jepang hingga sekarang. Gak hanya terlihat dari kuil, rumah kayu, atau upacara minum teh, tetapi juga dari cara mengolah makanannya. Di beberapa restoran dan penginapan tradisional, teknik memasak menggunakan kayu bakar masih dipertahankan karena dipercaya memberikan aroma dan cita rasa yang khas.
Metode memasak ini memang membutuhkan waktu lebih lama dibanding kompor modern. Namun, banyak koki di Kyoto tetap mempertahankannya sebagai bagian dari warisan kuliner yang sudah dijaga selama ratusan tahun. Berikut beberapa kuliner kuno khas Kyoto yang masih sering dimasak dengan kayu bakar.
1. Yudofu
Yudofu merupakan hidangan sederhana berupa tahu yang direbus perlahan dalam panci tanah liat. Di beberapa restoran tradisional Kyoto, air rebusan dipanaskan menggunakan tungku kayu agar suhu tetap stabil selama proses memasak.
Cara ini membuat tahu tetap lembut tanpa mudah hancur. Yudofu biasanya disajikan bersama kecap asin, daun bawang, dan parutan jahe yang membuat rasanya semakin nikmat.
2. Kamameshi

Kamameshi adalah nasi yang dimasak dalam panci besi kecil bersama ayam, jamur, seafood, atau sayuran musiman. Beberapa rumah makan tua di Kyoto masih menggunakan kayu bakar agar nasi matang secara perlahan.
Api dari kayu menghasilkan kerak nasi tipis di bagian bawah panci yang justru menjadi favorit banyak orang. Aroma asap yang ringan juga memberikan karakter rasa yang berbeda dibanding nasi yang dimasak dengan rice cooker.
3. Ayu no shioyaki

Ayu no shioyaki merupakan ikan ayu yang dibumbui garam lalu dipanggang utuh. Di restoran tradisional dekat sungai, ikan ini masih sering dipanggang menggunakan bara kayu hingga kulitnya renyah.
Proses memanggang secara perlahan membuat daging ikan tetap lembut dan aroma alaminya tetap terasa. Hidangan ini banyak dinikmati saat musim panas ketika ikan ayu sedang melimpah.
4. Yakizakana

Yakizakana adalah sebutan untuk berbagai jenis ikan panggang yang menjadi menu sehari-hari masyarakat Jepang. Di Kyoto, beberapa restoran bersejarah masih memanggang ikan menggunakan tungku berbahan bakar kayu.
Panas dari bara kayu membantu ikan matang merata tanpa membuat dagingnya kering. Karena itulah, banyak pelanggan tetap memilih restoran yang mempertahankan cara memasak tradisional ini.
5. Yaki onigiri

Yaki onigiri adalah nasi kepal khas Kyoto yang diolesi kecap asin atau miso, lalu dipanggang hingga bagian luarnya renyah. Di beberapa kedai tradisional, onigiri masih dipanggang di atas bara kayu agar aromanya lebih harum.
Bagian luar nasi menjadi sedikit garing, sementara bagian dalamnya tetap lembut. Perpaduan aroma asap dan gurihnya kecap membuat camilan sederhana ini tetap digemari hingga sekarang.
Kuliner tradisional Kyoto bukan hanya menarik karena rasanya, tetapi juga karena cara memasaknya yang masih setia pada teknik lama. Di tengah hadirnya berbagai peralatan modern, sebagian koki tetap memilih kayu bakar sebagai bagian dari tradisi yang ingin mereka jaga.
Kalau suatu hari kamu berkunjung ke Kyoto, cobalah mampir ke restoran atau ryokan yang masih menggunakan tungku tradisional. Selain menikmati makanan yang autentik, kamu juga bisa melihat secara langsung proses memasak yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.




















