5 Kuliner Khas Dataran Tinggi Dieng Paling Enak, Wajib Coba!

- Dieng Culture Festival akan digelar 28-30 Agustus 2026, menawarkan perpaduan seni, tradisi, alam, serta pengalaman berburu kuliner di tengah suhu dingin dataran tinggi.
- Mi ongklok, tempe kemul, dan soto batok menjadi pilihan hidangan hangat khas Dieng, dengan karakter kuah kental, gorengan berbumbu kunyit, hingga soto ayam dalam tempurung kelapa.
- Manisan carica menjadi buah tangan khas dari pepaya gunung Dieng, sementara wedang purwaceng disajikan dengan rempah seperti jahe, kapulaga, cengkeh, gula jawa, atau madu.
Gelaran budaya tahunan yang paling ditunggu-tunggu, yakni Dieng Culture Festival (DCF), akan kembali digelar pada 28-30 Agustus 2026 mendatang. Festival yang memadukan keindahan seni dan tradisi, serta keindahan alam ini selalu berhasil menciptakan kenangan tak terlupakan. Namun, petualanganmu di Dataran Tinggi Dieng dipastikan belum lengkap jika hanya menikmati pertunjukan budayanya tanpa memanjakan lidah.
Suhu dingin Dieng membuat aktivitas berburu kuliner menjadi momen yang sangat dinantikan. Berbagai hidangan khas dengan cita rasa gurih, pedas, hingga manis siap menghangatkan tubuhmu di sela-sela padatnya agenda festival.
Nah, supaya agenda kulineran-mu makin mantap selama DCF 2026, berikut deretan makanan khas Dataran Tinggi Dieng yang wajib banget kamu coba! Semuanya enak dan bikin air liur menetes!
1. Mi ongklok
Potret mi ongklok khas Wonosobo (commons.wikimedia.org/Midori) Rekomendasi makanan yang pertama adalah mi ongklok. Sajian ini terbuat dari mi rebus yang disajikan dengan kuah kental, serta irisan kol dan kucai. Kuah tersebut dibuat dari adonan tepung pati, ebi, dan rempah pilihan. Rasanya perpaduan gurih dan manis yang nikmat.
Menikmati semangkuk mi ongklok hangat di tengah semilir angin sejuknya Dataran Tinggi Dieng akan memberikan kenikmatan tersendiri. Mi ongklok biasanya disantap bersama sate sapi berbumbu kacang yang empuk, serta tempe kemul dan keripik tahu. Nikmat banget!
2. Tempe kemul

Potret tempe kemul (pexels.com/Irhan Khoirul) Bagi pencinta gorengan, tempe kemul adalah sajian lokal yang dijamin bakal bikin kamu ketagihan. Sekilas, tampilannya mirip tempe mendoan, tapi sebenarnya ada perbendaannya. Tempe kemul dibalut adonan tepung terigu dan tepung beras tebal berwarna kuning cerah dari kunyit, lalu diberi irisan daun kucai.
Tempe kemudian digoreng dengan minyak panas hingga bagian pinggirnya renyah (kriuk), tetapi bagian tengahnya tetap empuk. Tempe kemul wajib disajikan dalam kondisi panas langsung dari wajan penggorengan. Tujuannya untuk menghangatkan tubuh di tengah suhu Dieng yang sangat dingin. Sebagai pelengkap, tempe ini biasanya dipadukan dengan cabai rawit hijau yang pedas menggigit.
3. Soto batok
Hidangan berkuah segar lainnya yang wajib kamu buru selama gelaran DCF 2026 adalah soto batok. Sesuai dengan namanya, soto ayam berkuah bening dan kaya rempah ini disajikan menggunakan wadah berupa tempurung kelapa atau batok. Konsep penyajian ini memberikan pengalaman unik dan membangkitkan selera makan.
Satu porsi soto batok terdiri dari nasi, suwiran ayam kampung, taoge, seledri, dan taburan bawang goreng yang gurih. Menyantap soto hangat di warung-warung pinggir jalan Dieng pada pagi hari sebelum menyaksikan ritual ruwatan rambut gimbal dijamin bakal membuat energimu terisi penuh.
4. Manisan carica

Potret manisan carica (vecteezy.com/Andrey Starostin) Liburan ke Dieng tentu tidak lengkap tanpa mencicipi maupun membawa pulang carica sebagai buah tangan. Carica adalah spesies pepaya gunung (Vasconcellea cundinamarcensis) yang hanya hidup di kawasan berudara dingin seperti Dataran Tinggi Dieng. Buah ini memiliki tekstur daging yang kenyal dan aroma yang harum.
Olahan carica paling populer adalah manisan. Daging buahnya direbus dengan larutan gula murni, kemudian dikemas di dalam wadah kecil dan bisa langsung disantap. Makin nikmat lagi kalau dikonsumsi dalam kondisi dingin. Sensasi rasa manis dan segar dari manisan ini sangat pas untuk menetralisir lidah setelah menyantap makanan bersantan atau berminyak.
5. Purwaceng

Potret akar purwaceng kering (commons.wikimedia.org/Kembangraps) Sering dijuluki sebagai ginseng tradisional Jawa, purwaceng adalah tanaman herbal yang hanya dapat tumbuh subur di dataran tinggi, seperti Dieng. Untuk penyajiannya, biasanya purwaceng dapat diseduh dengan rempah-rempah lain, seperti jahe, kapulaga, cengkeh, dan gula jawa atau madu.
Wedang purwaceng diyakini sangat ampuh untuk meningkatkan stamina tubuh, melancarkan peredaran darah, dan mengusir rasa dingin yang menusuk tulang. Menyesap secangkir purwaceng hangat sembari nonton Jazz di Atas Awan akan menjaga suhu tubuhmu tetap hangat dan selalu bugar.
Demikian rekomendasi kuliner khas Dataran Tinggi Dieng yang wajib kamu coba sembari menonton gelaran Dieng Culture Festival 2026. Makanan mana yang paling membuatmu tergiur?





















