Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cara Mengatasi Mual saat Puasa, Alami tetapi Ampuh!

Cara Mengatasi Mual saat Puasa, Alami tetapi Ampuh!
ilustrasi mual saat puasa (IDN Times/Novaya Siantita)
Intinya Sih
  • Mual saat puasa bisa dipicu oleh asam lambung, dehidrasi, gula darah rendah, hingga kafein withdrawal.

  • Strategi alami seperti pengaturan pola makan sahur, cukup cairan, jahe, dan manajemen stres dapat membantu.

  • Hindari langsung makan berlebihan, minuman berkafein berlebih, dan posisi berbaring setelah berbuka.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menjelang siang atau sore hari saat berpuasa, beberapa orang mulai merasakan sensasi tidak nyaman di lambung. Rasa mual muncul perlahan, dan kadang disertai perut perih, pusing ringan, atau tubuh terasa lemas.

Secara fisiologis, tubuh memang mengalami perubahan ritme metabolisme selama puasa. Pola makan bergeser, produksi hormon berubah, dan keseimbangan cairan ikut menyesuaikan. Kombinasi inilah yang dapat memicu keluhan mual, terutama jika ada faktor risiko tertentu. Memahami penyebabnya menjadi langkah pertama untuk mengatasinya secara tepat dan aman.

Table of Content

Penyebab mual saat berpuasa

Penyebab mual saat berpuasa

Berikut ini beberapa penyebab mual saat puasa:

  • Peningkatan asam lambung

Lambung tetap memproduksi asam meski tidak ada makanan yang masuk. Produksi asam lambung yang tidak diimbangi makanan dapat memperparah gejala dispepsia atau refluks asam (GERD).

Saat perut kosong dalam waktu lama, asam dapat mengiritasi mukosa lambung dan menimbulkan rasa mual atau perih. Kondisi ini lebih sering terjadi pada individu dengan riwayat gastritis atau GERD.

Penelitian menunjukkan perubahan pola makan selama Ramadan dapat memengaruhi gejala gastrointestinal, terutama jika konsumsi makanan berlemak atau pedas meningkat saat berbuka.

  • Dehidrasi

Selama puasa, tubuh tidak mendapat asupan cairan selama belasan jam. Dehidrasi ringan saja dapat menyebabkan pusing, lemas, dan mual. Cairan berperan penting dalam menjaga keseimbangan elektrolit dan fungsi saraf.

Ketika cairan tubuh berkurang, tekanan darah dapat menurun dan aliran darah ke otak sedikit berkurang, memicu sensasi mual atau ingin muntah.

Cuaca panas dan aktivitas fisik berat memperbesar risiko ini.

  • Gula darah rendah (hipoglikemia)

Puasa menyebabkan kadar glukosa darah menurun, terutama pada individu dengan metabolisme sensitif atau pasien diabetes yang menggunakan obat tertentu.

Hipoglikemia dapat menimbulkan gejala seperti gemetar, pusing, berkeringat, hingga mual.

Walau pada orang sehat tubuh mampu beradaptasi dengan memanfaatkan cadangan energi, tetapi sebagian individu tetap merasakan mual akibat fluktuasi gula darah.

  • Kafein withdrawal

Bagi yang terbiasa minum kopi setiap pagi, penghentian mendadak selama puasa dapat memicu gejala withdrawal. Gejalanya meliputi sakit kepala, mudah marah, kelelahan, dan mual.

Kafein memengaruhi sistem saraf pusat. Ketika asupannya tiba-tiba dihentikan, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

  • Faktor psikologis dan stres

Stres dan kecemasan dapat memengaruhi saluran cerna melalui mekanisme gut-brain axis. Stres dapat memperburuk gangguan lambung dan memicu mual.

Perubahan rutinitas tidur dan aktivitas selama puasa juga bisa berkontribusi terhadap stres fisiologis.

Cara mengatasi mual saat puasa

Permen jahe.
ilustrasi permen jahe (vecteezy.com/Roman Bulatov)

Jika penyebabnya bukan sesuatu yang serius, ada beberapa cara untuk mengatasi mual tanpa membatalkan puasa. Kamu bisa mencoba beberapa cara ini:

  • Atur pola sahur dengan bijak

Pilih makanan yang mengandung karbohidrat kompleks (oat, nasi merah), protein, dan serat untuk menjaga kestabilan gula darah lebih lama. Hindari makanan terlalu pedas, asam, atau berlemak tinggi yang dapat memperparah iritasi lambung.

Makan perlahan dan tidak berlebihan membantu lambung beradaptasi lebih baik.

  • Cukupi asupan cairan saat berbuka dan sahur

Gunakan pola minum bertahap antara berbuka hingga sahur untuk memenuhi kebutuhan cairan harian.

Hindari minuman berkafein berlebihan karena bersifat diuretik ringan dan dapat memperparah dehidrasi.

  • Manfaatkan jahe

Jahe telah diteliti memiliki efek antiemetik (antimual). Sebuah tinjauan sistematis menunjukkan jahe efektif mengurangi mual dalam berbagai kondisi, termasuk gangguan pencernaan.

Konsumsi dalam bentuk air jahe hangat saat berbuka dapat membantu meredakan rasa tidak nyaman.

  • Perhatikan posisi tubuh

Hindari langsung berbaring setelah berbuka. Kamu disarankan memberi jeda minimal 2–3 jam sebelum tidur untuk mengurangi risiko refluks asam.

Posisi duduk tegak membantu mencegah asam naik ke kerongkongan.

  • Kelola stres dan istirahat cukup

Tidur cukup membantu menyeimbangkan hormon dan sistem saraf. Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam dapat membantu mengurangi mual yang dipicu stres.

Hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan

Berikut ini hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan:

  1. Langsung makan berlebihan saat berbuka.
  2. Mengonsumsi kopi atau minuman energi dalam jumlah besar.
  3. Berbaring segera setelah makan.
  4. Mengabaikan gejala berat seperti muntah terus-menerus, nyeri hebat, atau pusing berat.

Jika mual disertai gejala serius atau memiliki kondisi medis tertentu, konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan.

Mual saat puasa umum terjadi, biasanya berkaitan dengan perubahan fisiologis seperti peningkatan asam lambung, dehidrasi, atau fluktuasi gula darah. Kabar baiknya, sebagian besar kasus dapat diatasi dengan pendekatan alami dan perubahan gaya hidup sederhana. Dengan memahami penyebab dan menerapkan strategi yang tepat, tubuh dapat beradaptasi lebih baik dan ibadah puasa pun terasa lebih nyaman.

Referensi

Philip O. Katz et al., “ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease,” The American Journal of Gastroenterology 117, no. 1 (November 22, 2021): 27–56, https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000001538.

Z. Nikniaz, M. Abbasalizad Farhangi and L. Nikniaz, "Effect of Ramadan fasting on gastrointestinal tract: A review," Quran and Medicine, 8 4 (2024): 52-66.

Sadeghpour, Shirin, Ammar Hassanzadeh Keshteli, Parnaz Daneshpajouhnejad, Pegah Jahangiri and Peyman Adibi. “Ramadan fasting and digestive disorders: SEPAHAN systematic review No. 7.” Journal of Research in Medical Sciences 17 (2012): n. pag.

"Dietary Reference Intakes for Water." National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. Diakses Februari 2026.

“Hypoglycemia (Low Blood Glucose)." American Diabetes Association. Diakses Februari 2026.

“Caffeine Withdrawal.” Johns Hopkins Medicine. Diakses Februari 2026.

“The Gut-Brain Connection.” Harvard Health Publishing. Diakses Februari 2026.

Wolfgang Marx et al., “Ginger—Mechanism of Action in Chemotherapy-induced Nausea and Vomiting: A Review,” Critical Reviews in Food Science and Nutrition 57, no. 1 (April 7, 2015): 141–46, https://doi.org/10.1080/10408398.2013.865590.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Latest in Health

See More