World Health Organization, “Physical Activity,” diakses September 2026.
Ziyi Zhou et al., “Accelerometry-Measured Prolonged and Interrupted Sedentary Behavior and Cancer Incidence and Mortality: A Cohort Study of 91,292 UK Biobank Participants,” PLOS Medicine 23, no. 7 (2026): e1004767, https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1004767.
Harvard Health Publishing, “Taking Breaks from Sitting to Move Around May Lower Cancer Risk,” diakses September 2026.
Duduk Lama Tanpa Jeda Dikaitkan dengan Risiko Kanker

Duduk lama dengan sedikit jeda dikaitkan dengan risiko kanker dan kematian akibat kanker yang lebih tinggi.
Angka peningkatan risiko dalam studi merupakan perbandingan relatif, bukan kepastian seseorang akan terkena kanker.
Mengurangi waktu duduk dan menyisipkan aktivitas fisik merupakan langkah yang dianjurkan, meski studi ini belum membuktikan sebab-akibat.
Pekerjaan banyak, lanjut rapat, lalu waktu istirahat dihabiskan dengan makanan dan menonton sambil duduk. Tanpa terasa, sebagian besar hari dihabiskan dengan banyak duduk.
Kebiasaan ini memiliki dampak kesehatan yang lebih luas, bukan cuma pegal. Makin banyak waktu yang dihabiskan untuk aktivitas minim gerak saat terjaga, makin tinggi risiko sejumlah masalah kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, dan kanker.
Penelitian dalam jurnal PLOS Medicine kemudian menyoroti hal yang lebih spesifik, tentang bagaimana waktu duduk tersebut terakumulasi sepanjang hari.
Table of Content
1. Pola duduk juga perlu diperhatikan
Penelitian terhadap 91.292 peserta UK Biobank menggunakan alat pemantau aktivitas yang dikenakan selama seminggu. Peneliti mendefinisikan periode sedenter berkepanjangan sebagai periode minimal 30 menit yang setidaknya 90 persen waktunya dihabiskan dalam keadaan minim gerak.
Dalam analisis utama, setiap tambahan 1 jam per hari dalam pola tersebut dikaitkan dengan risiko relatif terkena kanker sekitar 3 persen lebih tinggi, serta risiko relatif meninggal akibat kanker sekitar 9 persen lebih tinggi.
Angka ini menggambarkan perbedaan kebiasaan harian antarpeserta. Artinya, sekali duduk 1 jam tidak serta-merta menaikkan risiko pribadi sebesar itu. Batas 30 menit juga merupakan definisi penelitian, bukan titik ketika duduk mendadak menjadi berbahaya.
2. Aktivitas ringan juga dapat membantu
Dalam model statistik penelitian, mengganti 1 jam sehari dari waktu sedenter berkepanjangan dengan aktivitas ringan dikaitkan dengan risiko kematian akibat kanker sekitar 12 persen lebih rendah. Ini merupakan estimasi, bukan hasil percobaan yang meminta peserta mengubah kebiasaannya.
Langkah sederhana seperti mengatur pengingat untuk bangun dari kursi secara berkala, berjalan, atau melakukan aktivitas ringan dapat membantu. Misalnya, berjalan mengambil air minum atau membereskan meja di sela pekerjaan.
3. Temuan ini bukan bukti bahwa duduk lama pasti menyebabkan kanker

ilustrasi seorang pekerja melakukan peregangan di kantor di sela-sela waktu duduk lama (magnific.com/magnific) Penelitian ini bersifat observasional. Faktor lain masih mungkin memengaruhi hasilnya, dan rekaman aktivitas selama 7 hari belum tentu mewakili kebiasaan bertahun-tahun.
Perlu ada penelitian lanjutan untuk memastikan apakah mengganti duduk lama dengan aktivitas benar-benar menurunkan risiko kanker. Karena itu, hasilnya tidak dapat dipakai untuk menjanjikan persentase perlindungan tertentu bagi setiap orang.
4. Manfaatkan setiap kesempatan untuk bergerak
Semua aktivitas fisik diperhitungkan dan bergerak sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Berjalan, bersepeda, pekerjaan rumah, serta olahraga dapat menjadi bagian dari rutinitas aktif.
Untuk orang dewasa, setidaknya 150 menit aktivitas intensitas sedang per minggu merupakan target minimum yang dianjurkan. Jeda bergerak sepanjang hari dapat melengkapi upaya tersebut.
Di tengah pekerjaan yang menuntut banyak duduk, kamu bisa memanfaatkan pergantian tugas atau jeda rapat untuk bergerak, lalu kembali bekerja. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten bisa menjadi investasi kesehatan.
Referensi





















