Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jangan Dikonsumsi! 5 Jajanan Ini Ternyata Bisa Memperparah Peradangan

Jangan Dikonsumsi! 5 Jajanan Ini Ternyata Bisa Memperparah Peradangan
pexels.com/AnnaNekrashevich

Peradangan merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh dan berperan dalam proses penyembuhan. Ketika tubuh kita mendeteksi penyusup atau penyerang ke tubuh kita, tubuh kita memberikan respon biologis untuk melawannya. Penyerang bisa jadi benda asing, seperti duri, bahan iritan, atau patogen. Patogen termasuk bakteri, virus, dan organisme lain yang menyebabkan infeksi.

Tentunya, apa yang kita konsumsi sangat berpengaruh terhadap kinerja tubuh kita. Nah, makanya seperti lima jajahan ini sangat tidak direkomendasikan jika sedang peradangan.

1. Donat

pexels.com/IgorOvsyannykov
pexels.com/IgorOvsyannykov

Siapa yang suka donat? Donat merupakan salah satu jajanan enak yang jarang orang menolak mengonsumsinya. Namun, nyatanya donat bisa menyebabkan peradangan serius.

Mengapa demikian? Kue yang kering alias donat ini bisa memberi tubuh kita banyak gula dan lemak trans. Ketika tubuh mengalami ketidakseimbangan, seperti pada kadar glukosa darah, sistem kekebalan akan ditandai dan peradangan akan dipicu. Lonjakan gula ini dapat meningkatkan kadar pembawa pesan pro-inflamasi yang disebut sitokin yang sangat penting dalam pensinyalan sel. 

Asam lemak trans dalam donat juga menyebabkan peradangan dan masalah jantung lainnya.

2. Gorengan

Pexels.com/ValeriaBoltneva
Pexels.com/ValeriaBoltneva

Makanan enak dan juga renyah ini juga masuk dalam daftar. Makanya tidak mengherankan jika misalnya kentang goreng bukanlah pilihan yang paling sehat, sebab kentang goreng juga bisa lebih berbahaya daripada yang kamu sadari.

Sama seperti gejala pada donat, dengan mengkonsumsi makanan tinggi gorengan menunjukkan prevalensi penanda inflamasi atau antiradang yang lebih tinggi. Dampaknya, penyembuhan akan lebih lama. 

3. Minuman soda

ilustrasi kaleng soda (Pexels.com/Breakingpic)
ilustrasi kaleng soda (Pexels.com/Breakingpic)

Biomarker merupakan respon biologis dari suatu organisme terhadap bahan pencemar atau tekanan lingkungan. Biomarker digunakan sebagai substitusi dalam monitoring lingkungan yang mengandalkan pendekatan klasik berbasis pada informasi konsentrasi bahan-bahan kimia yang ada di lingkungan

Sebuah penelitian tahun 2018 di Journal of Nutrition menemukan bahwa wanita yang minum paling banyak soda memiliki tingkat biomarker peradangan dan risiko kardiovaskular tertinggi dibandingkan dengan wanita yang minum lebih sedikit minuman bersoda.

4. Produk olahan gandum

Pexels.com/LisaFotios
Pexels.com/LisaFotios

Produk olahan gandum seperti roti putih dan pasta bisa dengan cepat menyebabkan peradangan di tubuh. Mengapa? Tepung gandum olahan telah kehilangan kandungan serat dan nutrisinya yang membuatnya lambat dicerna. Apa akibatnya? Tubuh kita akan tubuh kita bisa mengelola makanan ini dengan sangat cepat.

Semakin cepat tubuh kita memecah karbohidrat ini, semakin cepat kadar gula darah kita naik. Tentu ini menyebabkan lonjakan insulin, yang menyebabkan peradangan

5. Alkohol

Pexels.com/Burst
Pexels.com/Burst

Mungkin, alkohol bukanlah produk yang punya banyak peminatnya dan sering mengkonsumsinya. Tapi perlu diketahui, minum bareng teman sesekali mungkin tidak berbahaya, sebaiknya berhati-hatilah.

Alkohol yang berlebihan juga menjadi pemicu peradangan. Minum lebih dari satu gelas per hari untuk wanita saja dapat menyebabkan sindrom usus bocor yang mengarah ke kondisi lebih lanjut yang terkait dengan peradangan.

Nah, itulah lima makanan yang cukup mudah kita dapatkan ternyata bisa memperburuk peradangan kita. Jadi, tahan dulu untuk mengonsumsinya ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Tania Stephanie
EditorTania Stephanie
Follow Us

Related Articles

See More

Perbedaan USG Abdominal dan Transvaginal, Kapan Diperlukan?

22 Apr 2026, 23:44 WIBHealth