ilustrasi minum air putih untuk menjaga hidrasi tubuh (pexels.com/Thirdman)
Selain memperhatikan jumlah liter air putih, kualitas pola makan juga berperan penting dalam menjaga hidrasi. Konsumsi buah dan sayur yang tinggi kandungan air seperti semangka, melon, dan mentimun dapat membantu menambah asupan cairan alami. Sebaliknya, batasi minuman berkafein karena dapat memicu peningkatan frekuensi buang air kecil.
Membatasi konsumsi makanan yang terlalu asin saat sahur juga efektif untuk mengurangi rasa haus berlebih di siang hari. Jika dipadukan dengan pola minum yang teratur dan pemilihan menu yang tepat, kebutuhan cairan selama puasa Ramadan akan lebih mudah tercukupi. Hasilnya, tubuh terasa lebih segar, konsentrasi tetap stabil, dan ibadah dapat dijalani dengan lebih nyaman dan khusyuk.
Konsumsi air putih yang ideal diminum saat puasa Ramadan bukanlah sekadar soal angka, tetapi tentang bagaimana kamu mengaturnya dengan bijak. Dengan takaran yang tepat dan pola minum yang teratur, tubuh tetap bertenaga meski seharian menahan lapar dan haus. Jadi, sudah siap menjaga hidrasi dengan lebih disiplin agar puasa tahun ini terasa lebih ringan dan optimal?
Referensi
“Hydration status and liver function of young men before and after Ramadan fasting.” Jurnal Gizi dan Pangan. Diakses Maret 2026.
“Assessment of water consumption during Ramadan intermittent fasting: Results from Indonesian cross-sectional study.” Frontiers in Nutrition. Diakses Maret 2026.
“Increasing Overnight Fluid Intake and Kidney Function During Ramadan Fasting: A Randomized Controlled Trial.” Transplantation Proceedings. Diakses Maret 2026.
“The effects of fasting in Ramadan.” British Journal of Nutrition. Diakses Maret 2026.