Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Pasien Kanker Paru Boleh Puasa? Ini Kata Dokter Paru

Apakah Pasien Kanker Paru Boleh Puasa? Ini Kata Dokter Paru
ilustrasi penyintas kanker paru (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
  • Pasien kanker paru boleh berpuasa selama kondisi tubuh memungkinkan dan tetap mengikuti arahan dokter yang menangani.

  • Keputusan berpuasa disesuaikan dengan jenis terapi, seperti kemoterapi atau terapi tablet, serta kondisi fisik pasien agar tidak mengganggu pengobatan.

  • Pasien dianjurkan menjaga asupan tinggi kalori, protein, serta mikronutrien penting seperti vitamin D, kalsium, dan zink untuk mendukung daya tahan tubuh selama Ramadan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pasien kanker paru tetap boleh berpuasa di bulan Ramadan tergantung dengan kondisi kesehatannya dan tetap mengikuti arahan dari dokter. Hal ini disampaikan oleh dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D, SpP(K), dokter spesialis paru.

"Boleh dong. Pasien kanker paru boleh puasa sesuai dengan kondisi, sesuai dengan penyakitnya, dan sesuai dengan anjuran dari dokter. Jadi tetap harus berkonsultasi dengan dokter," jelasnya pada Rabu (25/2/2026) dalam acara peringatan Hari Kanker Sedunia bersama AstraZeneca di Jakarta.

Keputusan puasa harus disesuaikan dengan jenis terapi dan kondisi fisik pasien. Menurut penjelasan dr. Sita, sekitar 44 persen pasien kanker paru menjalani terapi tablet, bukan kemoterapi. Pada kondisi yang stabil, puasa umumnya masih memungkinkan.

"Penggunaan obatnya boleh digeser. Jadi biasanya obat itu diberikan saat perut kosong. Jadi, biasanya kita sarankan minum obatnya sebelum tidur karena biasanya saat berbuka, makan banyak, habis isya makan banyak lagi. Kalau mau tidur perutnya agak lebih kosong," jelasnya.

Untuk pasien yang menjalani kemoterapi, keputusan bergantung pada kondisi tubuh. Jika pasien dalam kondisi fit dan ingin berpuasa, dokter tidak serta-merta melarang. Namun, evaluasi medis tetap wajib agar puasa tidak mengganggu terapi dan kondisi kesehatan.

Perhatikan kondisi fisik dan penuhi kebutuhan gizi lebih tinggi

Peringatan Hari Kanker Sedunia oleh AstraZeneca pada Rabu (25/2/2026).
Peringatan Hari Kanker Sedunia oleh AstraZeneca pada Rabu (25/2/2026) (IDN Times/Rifki Wuda)

Dokter Sita menekankan kondisi tubuh harus jadi acuan utama saat puasa.

"Kalau puasa, saya rasa tergantung kondisi pasien. Pasien bisa membatalkan pada kondisi yang merasa kondisinya lemah. Misalnya, pasiennya sudah tidak dapat berjalan, hanya di tempat tidur," ungkapnya.

Jika pasien merasa sangat lemah, pusing, atau kondisi memburuk, pasien boleh membatalkan puasa. Dalam kondisi sakit, puasa memang diperbolehkan untuk tidak dijalankan dan bisa diganti di hari lain.

Untuk menu sahur dan berbuka, pada dasarnya tidak ada perbedaan khusus dibanding hari biasa, tetapi kebutuhan gizinya lebih tinggi. Pasien kanker memerlukan asupan sekitar 1,5 kali lipat dibanding orang sehat. Itu artinya, pasien kanker perlu makanan tinggi kalori dan tinggi protein untuk mendukung terapi dan pemulihan.

"Ada banyak mitos, misalnya tidak boleh gula. Tetapi itu, tentu ya, orang normal juga tidak boleh makan gula terlalu banyak. Jadi, makan dalam moderasi. Tetapi kondisi kalori dan proteinnya juga harus dihitung, harus tinggi," tambah dr. Sita.

Dokter Sita juga juga mengingatkan bahwa pasien kanker juga perlu memperhatikan asupan mikronutrien penting seperti vitamin D, kalsium, dan zink agar daya tahan tubuh tetap terjaga selama menjalani pengobatan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More