Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengapa Berat Badan Tak Turun walau Rajin Olahraga?

Mengapa Berat Badan Tak Turun walau Rajin Olahraga?
ilustrasi menimbang berat badan (pexels.com/Gustavo Fring)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Berat badan tidak selalu turun meski rajin olahraga karena tubuh bisa beradaptasi dengan menghemat energi dan meningkatkan rasa lapar.

  • Massa otot yang bertambah, retensi cairan, kurang tidur, stres, dan pola makan yang tidak disadari juga bisa membuat angka timbangan stagnan.

  • Olahraga tetap penting untuk kesehatan, tetapi penurunan berat badan biasanya lebih efektif jika disertai pola makan, tidur, dan pemulihan yang baik.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Tubuh tidak selalu merespons olahraga dengan cara yang diharapkan. Ada orang yang mulai rutin lari, ikut kelas gym, atau rajin strength training, tetapi angka di timbangan tidak berubah banyak. Situasi ini sering bikin frustrasi karena usaha terasa besar, tetapi hasilnya seperti tidak terlihat.

Padahal, berat badan tidak ditentukan oleh olahraga saja. Tubuh punya sistem yang sangat kompleks untuk mempertahankan energi. Saat kamu mulai berolahraga dan mengurangi asupan makan, tubuh bisa beradaptasi dengan memperlambat metabolisme, meningkatkan rasa lapar, dan menghemat energi di area lain. Itu sebabnya, olahraga belum tentu langsung bikin berat badan turun.

Table of Content

1. Kamu mungkin sedang menambah otot

1. Kamu mungkin sedang menambah otot

Saat mulai rutin olahraga, terutama strength training atau latihan beban, tubuh bisa membangun massa otot baru. Otot memang lebih padat dibanding lemak. Akibatnya, kamu bisa kehilangan lemak tetapi berat badan tidak banyak berubah karena massa otot bertambah.

Inilah alasan mengapa angka timbangan tidak selalu mencerminkan perubahan tubuh yang sebenarnya. Lingkar pinggang bisa mengecil, pakaian terasa lebih longgar, dan tubuh terlihat lebih kencang meski berat badan stagnan.

Penelitian menunjukkan, pada fase awal olahraga, terutama jika kamu sebelumnya jarang aktif, tubuh dapat mengalami recomposition atau perubahan komposisi tubuh: lemak berkurang, tetapi otot bertambah. Akibatnya, angka timbangan terlihat di situ-situ saja, meski tubuh sebenarnya berubah.

2. Tubuh menjadi lebih hemat energi

Ilustrasi lari.
ilustrasi lari (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Saat berat badan mulai turun atau kamu rutin olahraga dalam jangka panjang, tubuh tidak terus-menerus membakar kalori dalam jumlah yang sama. Tubuh akan beradaptasi untuk bertahan hidup dengan menjadi lebih hemat energi.

Fenomena ini disebut adaptive thermogenesis. Metabolisme melambat, pengeluaran energi saat istirahat menurun, dan tubuh menjadi lebih efisien dalam menggunakan kalori. Bahkan, penurunan metabolisme ini sering lebih besar daripada yang diperkirakan hanya dari berkurangnya berat badan.

Akibatnya, jumlah kalori yang dulu cukup untuk menurunkan berat badan lama-lama menjadi tidak lagi efektif. Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang mengalami plateau atau fase ketika berat badan berhenti turun meski pola makan dan olahraga terasa sama.

3. Kamu jadi lebih lapar dan makan lebih banyak

Olahraga memang membakar kalori, tetapi juga bisa meningkatkan rasa lapar. Banyak orang tanpa sadar makan lebih banyak setelah berolahraga karena merasa sudah “berhak” mendapat hadiah setelah latihan berat.

Kadang, tambahan kalorinya terlihat kecil. Misalnya, satu gelas minuman manis, camilan setelah gym, atau porsi makan malam yang sedikit lebih besar. Namun, jika dilakukan terus-menerus, jumlah kalori tambahan itu bisa menghapus kalori yang sudah dibakar saat olahraga.

Penelitian menunjukkan, rendahnya penurunan berat badan akibat olahraga sering terjadi karena tubuh mengompensasi dengan meningkatkan asupan makan. Selain itu, olahraga juga dapat membuat kamu bergerak lebih sedikit di luar jam latihan karena merasa lelah, sehingga total kalori yang dibakar sepanjang hari tidak setinggi yang diperkirakan.

4. Kalori yang dibakar sering kali tidak sebesar yang dikira

Ilustrasi latihan di gym.
ilustrasi latihan di gym (pexels.com/Alexandr Zhukovskyi)

Banyak orang mengira satu sesi olahraga bisa membakar kalori dalam jumlah yang sangat besar. Padahal, nyatanya tidak selalu begitu.

Sebagai contoh, lari 30 menit mungkin hanya membakar sekitar 200–300 kalori, tergantung berat badan dan intensitas. Jumlah ini bisa dengan mudah tergantikan oleh kopi manis, pastry, gorengan, atau minuman setelah latihan.

Selain itu, smartwatch, treadmill, dan aplikasi kebugaran sering melebih-lebihkan jumlah kalori yang dibakar. Akibatnya, kamu merasa sudah defisit kalori padahal sebenarnya belum.

5. Kurang tidur dan stres bisa menghambat penurunan berat badan

Kurang tidur tidak cuma bikin tubuh lelah, tetapi juga memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Saat kurang tidur, kadar grelin (hormon lapar) cenderung meningkat, sementara leptin (hormon kenyang) justru menurun.

Stres kronis juga dapat meningkatkan kadar kortisol. Dalam jangka panjang, hormon ini bisa meningkatkan nafsu makan, membuat kamu lebih craving makanan tinggi gula dan lemak, serta memicu retensi cairan.

Akibatnya, kamu mungkin tetap olahraga secara konsisten, tetapi tubuh terasa “menahan” berat badan karena faktor hormonal dan pemulihan yang kurang baik.

6. Berat badan bisa naik karena retensi cairan

Latihan menggunakan rowing machine.
ilustrasi latihan menggunakan rowing machine (pexels.com/Andres Ayrton)

Tubuh bisa menahan cairan setelah olahraga berat, terutama jika baru mulai latihan intens atau meningkatkan volume latihan. Otot yang bekerja keras mengalami peradangan ringan dan membutuhkan cairan untuk proses pemulihan.

Karena itu, angka timbangan bisa naik sementara beberapa hari setelah olahraga berat, padahal yang bertambah bukan lemak, melainkan cairan. Hal ini sering terjadi setelah strength training, long run, atau latihan intensitas tinggi.

Fluktuasi cairan juga bisa dipengaruhi oleh siklus menstruasi, konsumsi garam, stres, dan kurang tidur. Jadi, berat badan harian sering kali tidak benar-benar mencerminkan jumlah lemak tubuh.

7. Ada kondisi medis atau obat yang memengaruhi berat badan

Pada sebagian orang, berat badan sulit turun bukan karena kurang usaha, tetapi karena ada kondisi medis tertentu. Misalnya hipotiroidisme, sindrom ovarium polikistik atau PCOS, resistansi insulin, depresi, hingga sleep apnea.

Beberapa jenis obat juga dapat memengaruhi berat badan, termasuk antidepresan, steroid, obat diabetes tertentu, dan pil KB tertentu. Kondisi ini bisa membuat tubuh lebih mudah menyimpan lemak, lebih sulit merasa kenyang, atau mengalami penurunan metabolisme.

Jika kamu sudah menjaga makan, rutin olahraga, tetapi berat badan tidak berubah selama berbulan-bulan, sebaiknya temui dokter untuk mengetahui apakah ada faktor medis yang mendasarinya.

Olahraga tetap penting meski berat badan tidak banyak berubah. Aktivitas fisik membantu memperbaiki gula darah, tekanan darah, kesehatan jantung, kualitas tidur, kekuatan otot, dan kesehatan mental. Banyak manfaat ini sudah bisa dirasakan bahkan sebelum berat badan turun banyak.

Jika berat badan belum turun meski rajin olahraga, bukan berarti kamu gagal atau usaha kamu sia-sia. Bisa jadi tubuh sedang membangun otot, menahan cairan, atau beradaptasi terhadap perubahan yang sedang terjadi. Fokus pada progres yang lebih luas, seperti stamina, kekuatan, lingkar tubuh, kualitas tidur, dan energi harian, dapat lebih membantu daripada cuma fokus pada angka timbangan.

Referensi

Gurpreet Sarwan, Sharon F. Daley, and Anis Rehman, “Management of Weight Loss Plateau,” StatPearls - NCBI Bookshelf, December 11, 2024, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK576400/.

D. M. Thomas et al., “Why Do Individuals Not Lose More Weight From an Exercise Intervention at a Defined Dose? An Energy Balance Analysis,” Obesity Reviews 13, no. 10 (June 11, 2012): 835–47, https://doi.org/10.1111/j.1467-789x.2012.01012.x.

“14 Common Reasons You’re Not Losing Weight.” Healthline. Diakses April 2026.

“5 Reasons You May Not Be Losing Weight Even in a Calorie Deficit, According to Dietitians.” EatingWell. Diakses April 2026.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nena Zakiah
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono

Related Articles

See More