Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
gambar seorang pelari sedang mengikuti maraton (unsplash.com/RETRATO DEPORVITO)
  • Maraton berjarak resmi 42,195 kilometer membutuhkan stamina, latihan konsisten, dan ketahanan mental, tetapi sebagian pelari dapat mengalami runner’s high selama atau setelah lari jarak jauh.
  • Runner’s high adalah euforia singkat berupa rasa tenang, bahagia, pikiran jernih, tubuh terasa ringan, serta berkurangnya rasa sakit yang dirasakan pelari.
  • Pemicu runner’s high masih diperdebatkan; riset terbaru menyoroti endocannabinoid. Sensasi ini tidak berbahaya, tetapi pelari tetap perlu memperhatikan nyeri dan kelelahan agar tidak memaksakan diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Maraton merupakan lomba lari jarak jauh dengan panjang jarak resmi 42,195 kilometer. Bukan sekedar lari, menempuh jarak sejauh ini juga membutuhkan stamina, latihan yang konsisten, dan ketahanan mental. Bagi orang awam yang belum pernah mencoba, yang terbayang adalah rasa lelahnya. 

Gak bisa dimungkiri, mengikuti maraton memang melelahkan dan butuh waktu cukup lama bagi pelari untuk bisa pulih setelahnya. Namun menariknya, banyak pelari justru merasakan sensasi yang berbeda. Sensasi berupa euforia ini sendiri dikenal dengan istilah runner’s high. Tapi sebenarnya apa sih runner’s high itu, dan bagaimana bisa pelari mengalaminya?

1. Apa itu runner’s high dan bagaimana sensasinya?

gambar para peserta maraton (unsplash.com/Miguel A Amutio)

Sebagian besar pelari pasti pernah mendengar istilah runner’s high atau euforia pelari. Sayangnya meski banyak yang mengetahuinya, gak semua orang pernah mengalaminya. Jika kamu salah satu orang yang belum pernah merasakannya, runner’s high merupakan euforia atau peningkatan suasana hati yang dialami oleh pelari.

Dilansir Hopkins Medicine, para pelari menggambarkannya sebagai perasaan yang tenang, bahagia, dan kejernihan mental. Beberapa pelari juga merasakan sensasi tubuh yang lebih ringan, hilangnya rasa sakit, dan merasa seperti dapat berlari selamanya. Runner's high sendiri berlangsung dalam waktu singkat, dan biasanya terjadi selama atau setelah berlari jarak jauh. 

2. Mengapa maraton memicu runner’s high?

ilustrasi otak manusia (unsplash.com/Milad Fakurian)

Gak dipungkiri, runner’s high membantu para pelari untuk merasa rileks dan tenang selama beberapa menit. Meski begitu, pemicu utama terjadinya runner’s high sendiri masih menjadi perdebatan. Dilansir Healthline, selama beberapa dekade, banyak ilmuwan percaya bahwa endorfin merupakan pemicu utama runner’s high. Ini karena saat kita berlari atau melakukan olahraga, tubuh akan melepaskan sejumlah besar endorfin ke dalam darah. Endorfin sendiri merupakan zat kimia (hormon) yang diproduksi otak untuk meredakan rasa sakit, mengurangi stres, dan memperbaiki suasana hati.

Endorfin dilepaskan bukan hanya saat seseorang merasa stres dan sakit, tetapi juga saat berolahraga. Namun penelitian beberapa tahun belakangan menunjukkan bahwa endorfin gak berperan banyak dalam euforia ini. Sebaliknya, penelitian justru menunjukkan molekul jenis lain yang disebut endocannabinoid.

Ternyata selain endorfin, tubuh juga melepaskan molekul endocannabinoid ke dalam darah. Molekul ini berperan penting dalam mengatur berbagai fungsi dan proses di dalam tubuh. Termasuk tidur, nafsu makan, ingatan, reproduksi, fungsi kekebalan tubuh, pengendalian rasa nyeri, hingga suasana hati.

3. Apakah runner’s high memberikan dampak buruk pada tubuh?

gambar seorang pria yang sedang mengikuti maraton (unsplash.com/Mathias Reding)

Runner's high merupakan respon biokimia alami dari tubuh untuk membantu mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati. Mengingat euforia ini juga hanya berlangsung dalam waktu singkat, runner’s high sendiri gak memberikan dampak buruk bagi tubuh. Namun dilansir Nike, terkadang runner’s high membuat kita merasa hampir gak terkalahkan, dan akhirnya mengabaikan rasa sakit yang muncul. Padahal dalam berolahraga atau aktivitas apapun, kita harus tetap mendengarkan apa yang disampaikan oleh tubuh. Memaksakan diri ketika tubuh sudah lelah, itulah yang dapat memberikan dampak buruk bagi tubuh. 

Mengalami runner’s high di saat tubuh merasa lelah bisa menjadi pengalaman yang cukup menyenangkan. Apalagi kalau sensasi itu muncul setelah kita berlari puluhan kilometer jauhnya. Namun jangan sampai hanya karena euforia sesaat, membuat kita jadi mengabaikan kondisi tubuh sendiri dan bersikap berlebihan. Bukan apa-apa, kalau sudah cedera parah, kita sendiri juga lah yang akan repot nantinya. 

Referensi

“What Is a Marathon?” MSIG Indonesia. Diakses November 2026.

“Marathon Is.” SVRG. Diakses November 2026.

“Runner’s High.” Running Front. Diakses November 2026.

“The Elusive Runner’s High: What Is It and How to Catch It.” The San Francisco Marathon. Diakses November 2026.

“The Truth Behind Runner’s High and Other Mental Benefits of Running.” Johns Hopkins Medicine. Diakses November 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article