- Nyeri tiba-tiba dan memburuk dengan cepat di bagian kanan atas perut.
- Nyeri yang tiba-tiba dan cepat memburuk di tengah perut (di bawah tulang dada).
- Nyeri punggung di antara tulang belikat.
- Nyeri di bahu kanan.
- Mual atau muntah.
Bagaimana Diet Penurunan Berat Badan Bisa Picu Batu Empedu?

- Batu empedu adalah endapan keras di kantong atau saluran empedu, yang dapat memicu nyeri perut kanan atas, mual, muntah, nyeri punggung, hingga bahu kanan.
- Fluktuasi berat badan meningkatkan risiko batu empedu, terutama bila penurunan mencapai lebih dari 1,5 kg per minggu atau melebihi 25 persen berat badan.
- Diet rendah kalori atau lemak ekstrem dapat menghambat pengosongan kantong empedu dan meningkatkan kolesterol empedu; penurunan bertahap, aktivitas fisik, serta konsultasi ahli gizi dianjurkan.
Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih untuk melakukan diet penurunan berat badan. Salah satunya adalah agar badan lebih sehat dan bugar. Namun, diet penurunan berat badan yang dilakukan sembarangan ternyata juga memiliki risiko kesehatan, seperti memicu munculnya batu empedu. Terlebih, jika penurunan berat badan terjadi secara drastis dalam waktu singkat.
Kemunculan batu empedu tentu bukanlah efek samping diet yang diinginkan, bukan? Lantas, bagaimana diet penurunan berat badan memicu batu empedu? Yuk simak ulasan berikut untuk mewaspadai dan mencegah kondisi ini.
1. Apa itu batu empedu?

ilustrasi batu empedu (pexels.com/Puwadon Sang-ngern) Batu empedu adalah endapan keras yang terbentuk di kantong empedu, sebuah organ kecil mirip buah pir di bagian kanan perut (tepat di bawah hati). Kantong empedu menyimpan cairan pencernaan yang disebut empedu. Empedu merupakan cairan yang dihasilkan oleh hati yang membantu mencerna lemak dalam makanan. Jadi, saat kita makan, kantong empedu akan berkontraksi dan mengeluarkan cairan tersebut ke dalam usus kecil untuk mengolah lemak.
Namun, saat terjadi batu empedu, cairan ini mengeras dan mengendap di kantong empedu atau saluran empedu. Mereka membentuk batu-batu kecil dengan ukuran yang bervariasi, mulai sekecil butiran pasir hingga sebesar bola golf. Penyebabnya beragam, seperti karena empedu terlalu banyak mengandung kolesterol, terlalu banyak bilirubin, atau kantung empedu tidak dapat mengosongkan isinya dengan benar.
Adapun gejala batu empedu, meliputi:
2. Faktor risiko batu empedu pada diet penurunan berat badan

ilustrasi pengukuran berat badan (pexels.com/Pixabay) Ada banyak faktor yang bisa memicu batu empedu, termasuk usia, hormon, kondisi medis (meliputi kadar kolesterol, bilirubin, atau asam empedu), dan fluktuasi berat badan. Dilansir jurnal Nature tahun 2024, perubahan berat badan, baik penurunan atau kenaikan berat badan, dapat meningkatkan risiko batu empedu. Selain itu, fluktuasi berat badan yang terlalu cepat juga bisa memicu kondisi ini.
Masih dari studi yang sama dilaporkan, orang yang mengalami fluktuasi perubahan berat badan memiliki risiko lebih tinggi mengalami batu empedu dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badan stabil. Di mana, risiko ini bergantung pada jumlah perubahan berat badan yang terjadi. Pada orang yang mengalami perubahan berat badan melebihi 20 persen, memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengalami perubahan berat badan sebanyak 5 dan 20 persen.
Lebih rinci, jurnal Visceral Medicine tahun 2021 menjelaskan, ada dua kondisi di mana diet penurunan berat badan bisa memicu batu empedu. Pertama, ketika penurunan berat badan terjadi sangat cepat, yaitu >1,5 kg per minggu. Kedua, ketika penurunan berat badan yang berlebihan, yaitu >25 persen berat badan.
3. Bagaimana diet penurunan berat badan menyebabkan batu empedu?

ilustrasi nyeri perut (pexels.com/cottonbro studio) Penurunan berat badan yang drastis dapat memengaruhi keseimbangan kolesterol, bilirubin, atau asam empedu. Ini memicu kondisi prolitogenik, yaitu kondisi yang mendukung pembentukan batu empedu. Dalam jurnal Nature tahun 2024 dijelaskan, selama diet penurunan berat badan, indeks saturasi kolesterol empedu meningkat dan terjadi stasis kantung empedu. Inilah yang kemudian menyebabkan terbentuknya batu empedu.
Saat kita makan, lemak yang masuk ke dalam tubuh akan dipecah oleh cairan empedu. Di mana proses ini memicu kontraksi kantung empedu untuk mengeluarkan cairan empedu. Akan tetapi, ketika kita sedang melakukan diet rendah kalori atau rendah lemak, kontraksi pada kantung empedu ini menurun karena jumlah asupan makanan yang lebih rendah.
Nah, di saat yang bersamaan, hati melepaskan lebih banyak kolesterol ke dalam empedu (lebih banyak daripada yang bisa diproses). Di mana kondisi ini menyebabkan peningkatan indeks saturasi kolesterol empedu. Ketika nilai indeks kolesterol empedu naik, ini menyebabkan cairan empedu terlalu jenuh dengan kolesterol. Akibatnya, kolesterol empedu tidak mampu lagi dilarutkan, yang akhirnya mengendap dan membentuk kristal, yang lama kelamaan menjadi batu empedu.
Dalam laman UPMC, dokter bedah bariatrik Bestoun H. Ahmed, MD, menjelaskan batu empedu terbentuk ketika empedu mengandung terlalu banyak kolesterol atau bilirubin dan tidak cukup asam empedu atau lesitin, yaitu zat yang memungkinkan cairan berbasis air dan minyak bercampur. Hal ini menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan kolesterol, lesitin, dan asam empedu.
Selain itu, selama penurunan berat badan yang cepat, hipotonia pada kantung empedu juga dapat terjadi dan menyebabkan fungsinya memburuk. Ketika fungsi kantung empedu memburuk, cairan empedu tidak bisa dikeluarkan. Cairan empedu ini menjadi stagnan, mengkristal, dan membentuk batu empedu.
4. Tips diet aman untuk mengurangi risiko batu empedu

ilustrasi makan wortel (pexels.com/Blue Bird) Diet penurunan berat badan tak selalu menyebabkan batu empedu. Sering kali, ini terjadi pada diet yang sangat cepat dan berlebihan. Jadi, untuk mengurangi risikonya, sebaiknya lakukan diet penurunan berat badan secara perlahan dan bertahap. Selain itu, kombinasikan juga dengan aktivitas fisik yang teratur.
Laman Everyday Health menambahkan, diet rendah lemak ekstrem juga bukanlah ide yang bagus untuk menurunkan berat badan. Hal ini karena bisa menghambat kontraksi kantung empedu untuk mengosongkan isinya. Jadi, sebaiknya lakukan diet yang tidak membuatmu merasa terlalu lapar, lelah, atau kekurangan agar bisa terus berkelanjutan dan mencegah batu empedu. Agar tercapai diet sesuai tujuan, kamu juga bisa berkonsultasi dengan ahli gizi terdaftar untuk membantu menyusun rencana diet yang tepat.
Batu empedu bisa menjadi risiko pada diet penurunan berat badan yang cepat dan berlebihan. Jadi, sebaiknya hindari melakukan diet kilat, terlebih jika tanpa pendampingan, ya. Diet yang bertahap dan sehat mungkin akan memberi manfaat dalam jangka waktu yang lebih panjang dan membantu mempertahankan berat badan yang ideal.
Referensi
“Long-term weight patterns and physical activity in gallstones”. Nature. Diakses Agustus 2026.
“Weight Loss and Gallstones: What’s the Connection?”. UPMC. Diakses Agustus 2026.
“Excess Body Weight and Gallstone Disease”. National Library of Medicine. Diakses Agustus 2026.
“Why Does Rapid Weight Loss Cause Gallstones?”. New Jersey Bariatric Center. Diakses Agustus 2026.
“The Link Between Gallstones, Obesity, and Weight Loss”. Everyday Health. Diakses Agustus 2026.
“Gallstones". Cleveland Clinic. Diakses Agustus 2026.
“Gallstones". Johns Hopkins. Diakses Agustus 2026.
“Gallstones". Mayo Clinic. Diakses Agustus 2026.







![[QUIZ] Seberapa Kompetitif Kamu saat Olahraga?](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)












![[QUIZ] Apakah Kamu Perlu Diet Gula? Cek Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20251114/pexels-andres-ayrton-6551415_cba3b81a-b873-4715-a107-d9f700b5f96a.jpg)

