Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bolehkah Sahur Makan Mi Instan? Ini Tips Mengolahnya!
ilustrasi makan mie instan (vecteezy.com/Piti Petdum)
  • Mi instan punya kandungan garam dan lemaknya tinggi sehingga bisa memicu rasa haus dan cepat lapar jika tidak diolah dengan bijak.

  • Mengurangi bumbu, membuang air rebusan pertama, serta menambah sayuran dan protein dapat menyeimbangkan gizi mi instan agar lebih aman untuk sahur.

  • Konsumsi mi instan sebaiknya tidak terlalu sering, terutama bagi penderita hipertensi atau gangguan lambung, agar kesehatan tetap terjaga selama menjalani puasa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sahur sering membuat banyak orang memilih makanan praktis karena waktu terbatas, salah satunya mi instan yang mudah dimasak dan terasa mengenyangkan. Namun dari sisi kesehatan, pilihan ini kerap dipertanyakan karena kandungan garam, lemak, serta zat gizi di dalamnya tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh saat puasa Ramadan.

Padahal, sahur seharusnya mampu menjaga energi tetap stabil sekaligus mencegah rasa haus berlebihan sepanjang hari. Karena itu, penting memahami apakah mi instan masih aman dikonsumsi saat sahur dan bagaimana cara mengolahnya agar tidak membebani tubuh. Berikut hal-hal yang perlu dipahami sebelum menjadikan mi instan sebagai menu sahur kamu.

1. Kandungan mi instan memengaruhi daya tahan tubuh saat puasa

ilustrasi mie instan (unsplash.com/sq lim)

Mi instan mengandung karbohidrat sederhana dalam jumlah tinggi sehingga mampu memberikan energi cepat, tetapi efek kenyangnya cenderung singkat karena hampir tidak memiliki serat. Kondisi ini membuat kadar gula darah naik dengan cepat lalu turun kembali, sehingga tubuh lebih mudah merasa lemas sebelum waktu berbuka. Selain itu, kandungan protein di dalam mi instan sangat rendah sehingga tidak cukup membantu mempertahankan energi dalam jangka panjang.

Kandungan natrium pada satu bungkus mi instan juga bisa mencapai lebih dari 1 ribu miligram, jumlah tersebut sudah mendekati setengah batas konsumsi harian. Asupan garam tinggi menyebabkan tubuh menahan lebih banyak cairan dan memicu rasa haus lebih cepat selama puasa. Lemak dari proses penggorengan mie kering juga dapat memperlambat pencernaan dan menimbulkan rasa tidak nyaman pada sebagian orang.

2. Cara memasak mi instan dapat menurunkan kadar garam berlebih

ilustrasi memasak mie instan (vecteezy.com/Bigc Studio)

Banyak orang tidak menyadari bahwa hampir seluruh kandungan natrium dalam mi instan berasal dari bumbu bubuk dan minyak. Menggunakan seluruh bumbu secara langsung membuat asupan garam meningkat tajam dalam sekali makan. Padahal, mengurangi bumbu hingga setengah takaran sudah mampu menurunkan kadar natrium secara signifikan tanpa membuat rasa menjadi hambar.

Langkah lain yang dapat dilakukan ialah merebus mie lalu membuang air rebusan pertama sebelum dicampur bumbu. Cara ini membantu mengurangi sisa minyak dan garam yang larut selama proses perebusan. Penggunaan air matang baru juga membuat rasa mie tetap ringan di lambung saat sahur.

3. Mi instan harus ditambahkan bahan-bahan segar lainnya agar gizi lebih seimbang

ilustrasi mie instan (vecteezy.com/Bigc Studio)

Mi instan sebenarnya dapat menjadi menu sahur yang lebih aman jika dilengkapi bahan segar yang kaya nutrisi. Sayuran hijau seperti bayam dan sawi mampu menambah serat sehingga membantu menjaga rasa kenyang lebih lama selama puasa. Kandungan vitamin dan mineral dari sayuran juga penting untuk menjaga fungsi tubuh tetap optimal sepanjang hari.

Penambahan protein seperti telur, tahu, atau potongan ayam membuat komposisi gizi menjadi lebih seimbang. Protein membantu memperlambat pengosongan lambung sehingga energi dilepaskan secara bertahap. Dengan kombinasi ini, mi instan tidak lagi sekadar sumber kalori cepat, melainkan menu sahur yang lebih lengkap.

4. Frekuensi konsumsi menentukan risiko kesehatan

ilustrasi makan mie instan (vecteezy.com/Lalita Somrat)

Mi instan tidak langsung membahayakan jika dikonsumsi sesekali saja saat sahur, terutama pada kondisi tubuh sehat. Risiko kesehatan baru muncul ketika konsumsi dilakukan terlalu sering dalam 1 minggu. Asupan natrium tinggi secara terus-menerus dapat meningkatkan tekanan darah serta membebani fungsi ginjal.

Selain itu, rendahnya kandungan serat dan mikronutrien dapat membuat tubuh mudah mengalami kelelahan selama puasa. Kebiasaan makan mi instan tanpa variasi juga berpotensi menyebabkan kekurangan zat gizi penting. Karena itu, mi instan sebaiknya hanya dijadikan pilihan darurat, bukan menu sahur rutin.

5. Kondisi tubuh tertentu perlu membatasi konsumsi mi instan

ilustrasi gangguan lambung (vecteezy.com/dao_kp20226443)

Orang dengan riwayat hipertensi perlu lebih berhati-hati karena kandungan garam tinggi pada mi instan dapat meningkatkan tekanan darah secara cepat. Penderita gangguan lambung juga bisa mengalami keluhan seperti perut perih atau kembung akibat bumbu yang pekat. Selain itu, kandungan lemak pada mi kering dapat memperlambat proses pencernaan sehingga terasa berat di perut saat pagi hari.

Jika tetap ingin mengonsumsinya, porsi kecil dengan tambahan sayuran dan protein lebih dianjurkan. Mengurangi bumbu serta memperbanyak air minum saat sahur juga membantu mencegah dehidrasi. Pada kondisi kesehatan tertentu, konsultasi dengan tenaga medis tetap menjadi langkah paling aman.

Mi instan boleh-boleh saja dikonsumsi saat sahur selama tidak menjadi kebiasaan. Kamu juga harus mengolahnya dengan cara yang lebih sehat. Menyeimbangkannya dengan bahan segar serta membatasi penggunaan bumbu dapat membantu menjaga tubuh tetap bertenaga selama puasa. Jadi, sudah siap mengolah mi instan dengan cara yang lebih aman sebelum sahur berikutnya?

Referensi

"Beginners Guide to a Healthy Suhoor (Pre Dawn Meal)". Masnad Health Clinic. Diakses pada Februari 2026.

"6 Quick Ways to Make Instant Noodles Healthy". Healthline. Diakses pada Februari 2026.

"UNESA Lecturer Reminds of the Impact of Consuming Instant Noodles, It Makes You Thirsty and Bloated Quickly". UNESA. Diakses pada Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team