Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sahur Cuma Makan Gorengan Bikin Cepat Haus saat Puasa, Kok Bisa?

Sahur Cuma Makan Gorengan Bikin Cepat Haus saat Puasa, Kok Bisa?
ilustrasi gorengan (vecteezy.com/Ika Rakhmawati Hilal)

Sahur sering menjadi waktu makan yang serbacepat, sehingga pilihan praktis seperti gorengan terasa paling mudah disiapkan sekaligus mengenyangkan. Padahal, kebiasaan sahur dengan makanan berminyak kerap dikaitkan dengan keluhan cepat haus selama puasa, bahkan ketika asupan minum sudah terasa cukup. Kondisi ini tidak sekadar soal rasa gurih atau tekstur kering di mulut saja, lho. Melainkan berkaitan dengan cara tubuh memproses lemak, garam, serta perubahan cairan di dalam sel.

Dampak makan gorengan saat sahur bisa muncul sejak beberapa jam setelah imsak, terutama saat tubuh mulai beradaptasi dengan kondisi tanpa asupan air. Berikut penjelasan yang membantu memahami kaitan sahur gorengan dengan rasa haus saat puasa.

1. Kandungan garam pada gorengan memicu penarikan cairan tubuh

garam
ilustrasi garam (vecteezy.com/NARONG KHUEANKAEW)

Gorengan jarang terasa asin di lidah, tetapi adonan tepung, bumbu, serta bahan pelengkap sering mengandung natrium dalam jumlah cukup tinggi. Natrium bekerja menarik air keluar dari sel menuju aliran darah, sehingga tubuh kemudian mencoba menyeimbangkan kembali cairan melalui mekanisme rasa haus. Proses ini tidak terjadi seketika, melainkan muncul bertahap ketika keseimbangan elektrolit mulai berubah setelah beberapa jam berpuasa. Itulah sebabnya rasa haus sering terasa kuat menjelang siang meskipun sahur sudah minum banyak.

Selain itu, natrium berlebih membuat ginjal harus bekerja lebih aktif menyaring dan membuang kelebihan garam melalui urine. Saat tidak ada asupan air baru, tubuh tetap mengeluarkan cairan, sehingga cadangan air berkurang lebih cepat. Kondisi ini memperkuat sensasi kering di tenggorokan dan mulut.

2. Proses penggorengan meningkatkan kebutuhan cairan pencernaan

menggoreng pisang
ilustrasi menggoreng pisang (commons.wikimedia.org/Rahul Sadagopan)

Makanan yang digoreng mengandung lemak dalam jumlah lebih tinggi dibandingkan makanan yang direbus atau dikukus. Lemak membutuhkan waktu cerna lebih lama karena harus dipecah melalui enzim dan empedu di sistem pencernaan. Selama proses tersebut, tubuh memerlukan cairan tambahan untuk membantu penguraian serta penyerapan nutrisi. Ketika cairan terbatas akibat puasa, tubuh akan mengirim sinyal haus sebagai bentuk kompensasi.

Selain itu, makanan berlemak memperlambat pengosongan lambung sehingga menimbulkan rasa penuh lebih lama. Kondisi ini sering membuat orang enggan minum cukup saat sahur karena merasa sudah kenyang. Padahal, lambatnya pengosongan lambung justru meningkatkan kebutuhan cairan dalam proses cerna. .

3. Tekstur kering gorengan mengurangi produksi air liur

makanan yang sebaiknya gak diberikan ke korban banjir
ilustrasi gorengan (vecteezy.com/Seftian Anderson)

Gorengan memiliki tekstur kering dan menyerap minyak, sehingga tidak memberi kontribusi cairan alami seperti makanan berkuah atau buah. Saat dikunyah, jenis makanan ini tidak merangsang produksi air liur sebanyak makanan yang mengandung air tinggi. Air liur berfungsi menjaga kelembapan rongga mulut sekaligus membantu proses pencernaan awal. Ketika produksinya berkurang, mulut lebih mudah terasa kering.

Kondisi mulut kering tersebut sering disalahartikan sebagai kekurangan minum, padahal penyebab utamanya adalah minimnya rangsangan produksi saliva. Sensasi kering ini bisa muncul sejak pagi dan bertahan lebih lama. Akibatnya, rasa haus terasa lebih cepat walaupun tubuh sebenarnya belum mengalami dehidrasi berat.

4. Lemak berlebih memicu peningkatan suhu metabolisme

ilustrasi gorengan
ilustrasi gorengan (vecteezy.com/ Tri Wahyuni)

Pencernaan lemak memerlukan energi lebih besar dibandingkan karbohidrat sederhana. Proses ini meningkatkan aktivitas metabolisme tubuh sehingga menghasilkan panas internal lebih tinggi. Saat suhu tubuh sedikit meningkat, tubuh akan berusaha menyeimbangkannya dengan mekanisme pendinginan, salah satunya melalui penguapan cairan. Kondisi ini membuat cadangan cairan berkurang lebih cepat.

Efek tersebut sering terasa sebagai tenggorokan kering atau tubuh terasa cepat gerah meskipun tidak banyak aktivitas fisik. Dalam situasi puasa, kehilangan cairan sekecil apa pun dapat memperkuat sensasi haus. Karena itu, sahur dengan makanan tinggi lemak cenderung membuat rasa haus muncul lebih cepat dibandingkan makanan yang lebih ringan.

5. Kombinasi minyak dan karbohidrat olahan mempercepat dehidrasi ringan

ilustrasi gorengan
ilustrasi gorengan (vecteezy.com/ Tri Wahyuni)

Banyak gorengan menggunakan tepung olahan sebagai bahan utama, sehingga kandungan seratnya rendah. Serat sebenarnya berfungsi membantu menahan air di dalam saluran cerna agar tubuh tidak cepat kehilangan cairan. Ketika makanan rendah serat dikonsumsi, air lebih cepat diserap lalu dikeluarkan kembali melalui proses metabolisme. Akibatnya, tubuh tidak memiliki cadangan cairan yang cukup lama.

Selain itu, karbohidrat olahan cepat diubah menjadi glukosa dalam darah, sehingga meningkatkan kebutuhan cairan untuk proses metabolisme energi. Kombinasi ini membuat tubuh lebih rentan mengalami dehidrasi ringan selama puasa. Itulah alasan sahur dengan gorengan sering diikuti rasa haus yang muncul lebih cepat.

Sahur dengan gorengan memang praktis dan terasa mengenyangkan, tetapi kandungan garam, lemak, serta minimnya cairan alami dapat mempercepat munculnya rasa haus saat puasa. Mengimbanginya dengan air cukup, sayur, atau makanan berkuah dapat membantu menjaga cadangan cairan tubuh lebih lama. Jika pilihan sahur memengaruhi kenyamanan puasa sepanjang hari, apakah kebiasaan tersebut masih ingin dipertahankan?

Referensi

"The 3 Worst Types of Foods to Eat Before You Start Fasting at Suhoor?" Masnad Health Clinic. Diakses pada Februari 2026.

"16 Sohour Foods to Curb Hunger and Thirst" 19 Twenty Three. Diakses pada Februari 2026.

"Food to avoid thirst in Ramadan" Saudi German Health. Diakses pada Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Health

See More

Kenapa Waktu Tidur saat Bulan Ramadan Sering Berantakan?

20 Feb 2026, 22:05 WIBHealth