Kurang tidur dapat memengaruhi regulasi hormon tubuh, termasuk hormon yang berkaitan dengan keseimbangan cairan. Saat tidur cukup, tubuh memiliki kesempatan untuk mengatur kembali keseimbangan metabolisme dan hidrasi.
Selain itu, membagi pola makan secara seimbang antara sahur dan berbuka juga penting. Tubuh membutuhkan waktu untuk menyerap nutrisi dan cairan secara efektif. Jika seluruh asupan cairan dikonsumsi dalam waktu sangat singkat, tubuh tidak dapat mengoptimalkan distribusinya.
Para ahli gizi sering merekomendasikan untuk membagi konsumsi cairan dan makanan secara bertahap dari berbuka hingga sahur, sambil memasukkan makanan kaya akan air dan elektrolit dalam menu harian.
Menjaga cairan tubuh saat puasa tidak hanya bergantung pada berapa banyak air yang kamu minum. Tubuh memperoleh cairan dari berbagai sumber, termasuk makanan, keseimbangan elektrolit, serta pengaturan aktivitas dan metabolisme. Dengan strategi yang tepat, tubuh dapat tetap terhidrasi meskipun saat puasa kamu tidak minum selama berjam-jam.
Referensi
Institute of Medicine. "Dietary Reference Intakes for Water, Potassium, Sodium, Chloride, and Sulfate." Washington, DC: National Academies Press, 2005.
European Food Safety Authority (EFSA). “Scientific Opinion on Dietary Reference Values for Water.” Diakses Maret 2026.
R. J. Maughan and S. M. Shirreffs, “Dehydration and Rehydration in Competative Sport,” Scandinavian Journal of Medicine and Science in Sports 20, no. s3 (October 1, 2010): 40–47, https://doi.org/10.1111/j.1600-0838.2010.01207.x.
Michael N. Sawka, Samuel N. Cheuvront, and Robert W. Kenefick, “Hypohydration and Human Performance: Impact of Environment and Physiological Mechanisms,” Sports Medicine 45, no. S1 (November 1, 2015): 51–60, https://doi.org/10.1007/s40279-015-0395-7.
David S. Ludwig, “The Glycemic Index,” JAMA 287, no. 18 (May 8, 2002): 2414, https://doi.org/10.1001/jama.287.18.2414.