Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Gaya Hidup Anak Muda yang Bisa jadi Pemicu Usus Bengkak

Ilustrasi nyeri perut
Ilustrasi nyeri perut (Freepik/freepik)
Intinya sih...
  • Pola makan tidak sehat memperburuk kesehatan usus.
  • Gaya hidup kurang gerak dan stres kronis meningkatkan risiko IBD.
  • Merokok, alkohol, obesitas, dan kecemasan juga menjadi faktor pemicu usus bengkak.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Baru-baru ini, netizen ramai membicarakan kabar duka tentang selebgram yang diketahui pernah mengalami sejumlah masalah kesehatan seperti infeksi saluran kemih (ISK), usus bengkak, batu ginjal, sampai GERD, sebelum akhirnya meninggal dunia. Sebelum kepergiannya, dikabarkan mendiang sempat berbagi bahwa ia harus menjalani prosedur kolonoskopi karena dinding ususnya mengalami penebalan yang menandakan peradangan serius di usus.

Dalam istilah medis, radang usus dikenal sebagai Inflammatory Bowel Disease (IBD), yaitu kondisi kronis di mana saluran pencernaan meradang dan mengalami kerusakan jaringan secara terus-menerus. Gejala umumnya seperti diare, sakit perut, kram, kelelahan, dan BAB berdarah.

Meski faktor genetik dan sistem imun menjadi penyebab utama IBD, gaya hidup yang gak sehat juga berperan memperburuk kondisi ini, terutama di kalangan anak muda. Berikut beberapa faktor pemicu yang justru menjadi gaya hidup anak muda masa kini.

1. Pola makan yang gak sehat

Ilustrasi makanan UPF
Ilustrasi makanan UPF (Freepik/freepik)

Kebiasaan konsumsi makanan ultra-proses, cepat saji, dan camilan manis bisa berdampak buruk pada kesehatan usus. Makanan jenis ini sering rendah serat, tinggi gula, lemak jenuh, dan bahan tambahan yang berpotensi mengubah mikrobiota usus yang penting untuk kesehatan pencernaan.

Selain itu, melakukan diet yang terlalu ketat, terutama tanpa pengawasan profesional, sering kali membuat tubuh stres dan dapat menyebabkan kekurangan nutrisi penting. Hal ini dapat memengaruhi imun dan kesehatan dinding usus.

2. Mager alias kurang gerak

Ilustrasi malas gerak
Ilustrasi malas gerak (Freepik/freepik)

Gaya hidup sedentari alias banyak duduk sepanjang hari bisa memperburuk peradangan tubuh. Aktivitas fisik gak hanya membantu pencernaan, tapi juga mengurangi stres dan meningkatkan sistem imun, dua hal yang berdampak pada risiko IBD.

3. Kurang tidur dan stres kronis

Ilustrasi kurang tidur
Ilustrasi kurang tidur (Freepik/jcomp)

Tidur yang kurang dari 6 jam per hari dan tingkat stres yang tinggi dapat memicu reaksi inflamasi di tubuh, termasuk dinding usus. Banyak penderita IBD melaporkan bahwa stres dan kurang tidur menjadi pemicu kekambuhan gejala.

4. Merokok dan konsumsi alkohol

Ilustrasi minum alkohol
Ilustrasi minum alkohol (Freepik/wavebreakmedia_micro)

Kebiasaan merokok terkenal sebagai faktor risiko untuk banyak penyakit kronis dan dikaitkan dengan hasil klinis yang lebih buruk pada pasien IBD. Konsumsi alkohol yang berlebihan juga berpotensi memperburuk gejala gangguan pencernaan, termasuk radang usus.

5. Obesitas dan berat badan yang gak ideal

Ilustrasi berat badan
Ilustrasi berat badan (Freepik/freepik)

Obesitas gak hanya berkaitan dengan berbagai penyakit metabolik, tetapi juga mempengaruhi risiko kekambuhan IBD serta komplikasi terkait pengobatan. Ini karena peradangan pada jaringan lemak bisa memperburuk ritme peradangan pada tubuh.

6. Gangguan kecemasan

Ilustrasi gangguan kecemasan
Ilustrasi gangguan kecemasan (Freepik/DC studio)

Banyak penderita radang usus juga melaporkan tingkat kecemasan dan beban psikologis tinggi karena gejala yang kambuh-kambuhan dan gak terduga, terutama di usia muda yang penuh tekanan sosial. Ini bisa memperburuk persepsi rasa sakit, pola makan, dan tidur, serta menciptakan siklus stres dan peradangan yang sulit diputus.

Usus bengkak atau IBD merupakan kondisi kronis yang terkait dengan peradangan sistemik dan bisa memengaruhi kualitas hidup sehari-hari. Menerapkan gaya hidup sehat gak menjamin kita selalu kebal terhadap penyakit ini, terutama kalau faktor genetiknya kuat. Namun seenggaknya dapat mengurangi risiko dan memperlambat perkembangannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Health

See More

Sesendok Kecil Habatusauda Setiap Hari Bantu Turunkan Kolesterol

28 Jan 2026, 17:02 WIBHealth